Leuser Krisis, Harimau dan Gajah Sumatera Terus Diburu

Banyak perangkap satwa liar dipasang pemburu.

NUSANTARA

Selasa, 05 Agus 2014 15:05 WIB

Author

Mongabay-Green Radio

Leuser Krisis, Harimau dan Gajah Sumatera Terus Diburu

leuser, gajah, harimau, mongabay

Forum Konservasi Leuser (FKL) menyatakan Kawasan Ekosistem Leuser (KEL), Aceh, berada dalam keadaan krisis. “Kami menemukan banyak perangkap satwa liar di hutan yang dipasang pemburu,” kata Direktur FKL Dediansyah di Banda Aceh. Hewan yang jadi sasaran adalah harimau dan gajah. 


Jerat itu dibuat dengan alat-alat sederhana. Tahun 2013, patrol FKL menemukan 127 jerat untuk harimau, burung, rusa, gajah dan badak. Mereka pun menemukan bangkai orangutan. Dan tahun ini, sudah ditemukan 160 jerat. Artinya, menurut Dedi, ada peningkatan tajam kegiatan berburuan di Leuser. 


“Indikasinya perburuan, karena tim menemukan bekas tali jerat pada bangkai tersebut,” kata Dedi.


Gajah tanpa gading


Di Soraya dan Bengkung Kota Subulussam, tim FKL menemukan empat bangkai gajah jantan dewasa. Tinggal tersisa tulang belulang yang terserak di hutan. Gadingnya telah hilang. Di dekat lokasi ditemukan pula kabel baja besar, jerat lubang dan racun. Gajah diperkirakan dijerat kakinya, terperangkap dan akhirnya mati karena kehabisan tenaga. Pohon di sekitar gajah ini roboh karena gajah mencoba melepaskan diri dari jerat. 


“Mereka sepertinya tahu itu tempat gajah biasa bermigrasi. Mereka memasang perangkap lalu menunggunya hingga gajah itu kena,”kata Dedi.


Untuk menangkal gajah masuk ke kebun, warga memasang jerat paku. 


Sementara untuk menangkap harimau, alat yang dipakai adalah jerat tali besi dan lubang besar untuk perangkap. Biasanya pemburu ingin satwa dalam keadaan utuh untuk dijadikan offset-an.


Warga lokal 


Para pemburu kebanyakan masyarakat lokal yang membuka kebun di sekitar hutan dan juga para pelaku illegal logging. Mereka memasang jerat dengan target rusa dan kijang di hutan dekat kebun mereka. Sementara, pemburu khusus harimau dan gajah diketahui datang dari Sumatera Barat yang pindah dari lokasi mereka yang lama di hutan Kerinci Seblat di antara Riau dan Jambi. Ada juga pemburu yang datang dari Sumatera Utara.


Menurut Dedi diduga ada kerjasama dengan sindikat perdagangan satwa liar internasional. Adanya permintaan satwa liar atau bagian tubuh satwa liar dari pasar internasional menyebabkan Leuser jadi target baru lokasi perburuan karena di sini satwanya masih lengkap dan banyak.


Menyamar


Para spesialis pemburu ini diketahui masuk ke hutan dengan menyamar sebagai pencari kayu alin (gaharu). Jumlah mereka empat hingga enam orang kemudian memencar beberapa kelompok. “Kami tahu mereka orang luar karena masyarakat lokal yang berkebun tidak mengenal mereka,” kata Dedi.


Para pemburu masuk ke hutan dengan cara menelusuri pinggiran sungai, memanfaatkan jalan-jalan yang dibuka ke dalam kawasan hutan. Ada juga yang merambah hutan, membuka kebun dan tinggal disana, lalu memasang jerat satwa di sekitar hutan dekat kebun mereka.


“Kami menemukan jerat di jalur jelajah satwa, punggungan bukit dan uning (tempat satwa mengambil mineral). Dipasang dengan sangat ahli meski dengan perangkap tradisional.”


Dedi meminta ada tindakan cepat untuk menghentikan perburuan di KEL seluas 2,6 juta hektar dan mencakup 13 kabupaten di Aceh. “Penegakan hukum dan penyadartahuan kepada masyarakat juga harus ditingkatkan untuk mencegah perburuan yang lebih besar ke depan,” tandasnya.


Tulisan ini hasil kerjasama Mongabay dan Green Radio


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 7

Inisiatif Daur Pangan di Masa Pandemi

Mama 'AW': Menerobos Semak Berduri

Kabar Baru Jam 8