Keracunan Tambang, Ribuan Ikan di Pidie dan Aceh Jaya Mati

Ini masalah serius, kata Gubernur Aceh.

NUSANTARA

Rabu, 06 Agus 2014 22:55 WIB

Author

Mongabay-Green Radio

Keracunan Tambang, Ribuan Ikan di Pidie dan Aceh Jaya Mati

ikan, keracunan, aceh, mongabay

Ribuan ikan yang mati di sepanjang Sungai Meriam, Kabupaten Pidie hingga Sungai Teunom, Aceh Jaya, dipastikan keracunan tambang galian emas dan bijih besi di daerah sekitarnya. 


Penjelasan ini disampaikan oleh Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh Raihanna setelah memeriksa sampel ikan tersebut di Laboratorium Patologi Universitas Syah Kuala. Ciri-ciri ikan yang keracunan adalah mata hatinya bengkak, jaringan kulit mengalami pendarahan. Jika ikan tetap dimakan, maka akan  menyebabkan gatal dan jika digaruk akan meresap ke otot lalu menyebar ke seluruh tubuh. “Kondisi ikan yang demikian disimpulkan mati karena keracunan.”


Gubernur Aceh Zaini Abdullah, Selasa kemarin menegaskan, matinya ribuan ikan ini tidak boleh dibiarkan. “Ini masalah serius. Masyarakat hendaknya tidak lagi menambang emas tanpa izin,” kata Zaini di Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).


Pemerintah Aceh sebetulnya sudah memberlakukan moratorium tambang tertama pada galian emas dan bijih besi, demi menjaga lingkungan. Warga di Aceh Jaya juga sudah dihimbau untuk menghentikan kegiatan di sungai, termasuk berhenti mengkonsumsi ikan dari sungai tersebut. Sejumlah warga Teunom sudah terlanjur memakan ikan itu dan mengalami mual, pusing da muntah. 


Ketua DKP Aceh Jaya Ridwan Yusuf mengatakan, “Ikan yang mati haraus segera dikubur sehingga tidak mencemari udara.”


Direktur Walhi Aceh Muhammad Nur menilai, aktivitas pertambangan di Geumpang yang dekat  daerah aliran sungai (DAS) menjadi persoalan serius. Sungai merupakan sumber rezeki masyarakat, pembuangan limbah tambang yang bersinggungan langsung dengan air yang dikonsumsi warga merupakan kesalahan besar. “Terlebih, menggunakan merkuri sebagai cairan pemisah emas,” ucapnya.


Ribuan ikan mati sejak 26 Juli silam. Ikan itu mengapung dan terbawa arus sungai, dengan warna putih pucat, insang dan daging pecah, sisik memerah, mata bengkak serta kelamin di perut melepuh. Di Teunom, sebanyak 43 warga yang mengkonsumsi ikan kerling dari sungai tersebut mengalami pusing dan dibawa ke puskesmas terdekat.


Tulisan ini hasil kerja sama Mongabay dengan Green Radio



Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Upaya Muslimah Bercadar Kikis Stigma (Bag 1)

Kabar Baru Jam 8

Menyoal Jaminan Kebebasan Warga, Apapun Agamanya

Kabar Baru Jam 10