Kenapa Moratorium Tambang Aceh Tak Juga Dilaksanakan?

66 izin usaha tambang ada di dalam kawasan hutan lindung dan Leuser.

NUSANTARA

Minggu, 17 Agus 2014 09:28 WIB

Author

Mongabay-Green Radio

Kenapa Moratorium Tambang Aceh Tak Juga Dilaksanakan?

Leuser, moratorium tambang, Mongabay

Sudah berkali-kali Gubernur Aceh Zaini Abdullah berjanji akan menerapkan moratorium tambang, dengan cara memberlakukan jeda pemberian izin perusahaan tambang. Janji ini sudah disampaikan kepada masyarakat lewat media. Namun, hingga saat ini belum juga dilaksanakan. “Terkesan retorika,” kata Direktur Walhi Aceh, Muhammad Nur. 


Sampai Februari 2014, jumlah Izin Usaha Pertambangan (IUP) di Aceh mencapai 136 perusahaan dengan luas area pertambangan sebesar 780 ribu lebih hektar. “Bahkan informasi yang kami terima hingga awal tahun 2014, Pemerintah Aceh masih mengeluarkan izin kepada perusahaan tambang,” ujarnya.


Janji moratorium tambang terakhir disampaikan oleh Gubernur Aceh Zaini Abdullah pada awal Agustus lalu. Yang jadi sasaran utama moratorium adalah emas dan bijih besi. Pernyataan tersebut disampaikannya menanggapi tercemarnya sungai di Kabupaten Pidie dan Aceh Jaya yang menyebabkan ribuan ikan mati keracunan. 


“Kebijakan moratorium tambang dilaksanakan sebagai komitmen Pemerintah Aceh untuk menjaga kelestarian dan keseimbangan lingkungan,” sebut Zaini Abdullah.


Namun yang terjadi justru banyak perusahaan tambang yang melanggar aturan tapi tetap beroperasi. Dari 136 perusahaan tambang yang mengantongi IUP pun, sekitar 66 izin usahanya berada di dalam kawasan hutan lindung dan Kawasan Ekosistem Leuser (KEL). Sisanya di hutan produksi dan Areal Penggunaan Lain (APL). “Semua perusahaan yang memperoleh IUP di hutan lindung dan Kawasan Ekosistem Leuser, juga tidak memiliki izin pinjam pakai kawasan dari Kementerian Kehutanan,” sebut Muhammad Nur.


Gerakan Anti Korupsi (GeRAK) Aceh juga sependapat dengan Walhi. Menurut lembaga anti korupsi ini, Pemerintah Aceh tidak berani mengevaluasi semua izin pertambangan yang diduga bermasalah.


“Dari yang kami lihat, Gubernur Aceh hanya mengeluarkan pernyataan, tapi tidak berani melakukan evaluasi semua perusahaan tambang yang bermasalah,” ucap Kepala Divisi Advokasi Korupsi GeRAK Aceh, Hayatudin.


Yang sangat aneh, ujar Hayatuddin, sebagian besar izin pertambangan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota di Aceh, hanya izin eksplorasi atau izin penelitian. “Cukup banyak yang hanya melakukan penelitian dan hanya beberapa yang melakukan operasi produksi. Jika izin eksplorasi maka tidak ada keuntungan apapun untuk pendapatan daerah,” ujar Hayatuddin.


Kepala Biro Humas Pemerintah Aceh, Murthalamuddin membela atasannya. Kata dia, sejak Gubernur Aceh dijabat Zaini Abdullah, belum satu pun dikeluarkan izin tambang baru. Hal tersebut merupakan komitmen Zaini Abdullah dan wakilnya Muzakir Manaf untuk menjaga kelestarian lingkungan Aceh.


Pemerintah Aceh juga tengah mengevaluasi semua izin tambang yang telah dikeluarkan. Jika ditemukan perusahaan yang tidak aktif atau melanggar aturan yang telah ada termasuk Amdal, izinnya akan dicabut.


Murthalamuddin melanjutkan, terkait pertambangan emas tradisional milik masyarakat, Pemerintah Aceh sangat khawatir karena warga tidak melihat dampak negatif dari kegiatan pengolahan emas yang menggunakan bahan kimia berbahaya seperti merkuri dan sianida.


Gubernur Aceh juga telah menghimbau masyarakat yang selama ini melakukan penambangan emas tanpa izin, segera menghentikan kegiatan tersebut. “Di beberapa lokasi, telah terjadi kerusakan hutan, pencemaran air dan udara, serta merusak jalan. “Jika dibiarkan, nanti semakin parah,” jelasnya.


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Zero Waste, Ubah Salak Jadi Aneka Rupa

Zero Waste, Ubah Salak Jadi Aneka Rupa

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18