Bersabar Menikmati Burung di Lore Lindu

Danau Tambing jadi lokasi favorit.

NUSANTARA

Minggu, 17 Agus 2014 09:14 WIB

Author

Mongabay-Green Radio

Bersabar Menikmati Burung di Lore Lindu

Lore Lindu, pengamatan burung, Mongabay

Sesekali, bolehlah kita berwisata sekaligus melatih kesabaran. Caranya dengan datang ke Taman Nasional Lore Lindu di jantung Sulawesi Tengah. Di sini Anda butuh kesabaran untuk menjumpai burung unik di kawasan ini, seperti kipasan Sulawesi (Rhipidura teysmanni), burung seukuran salak pondoh yang ekornya menyerupai kipas. Ada juga gagak berleher putih atau yang dikenal dengan gagak sulawesi (Corvus typicus) dan kancilan ungu (Coracornis raveni). Kicau burung yang  bersahutan ini bagai orkestra alam yang menakjubkan.


Ada sejumlah titik di dalam Taman Nasional Lore Lindu yang dijadikan tempat pengamatan burung yakni, Napu, Wuasa, Dodolo, Pakauli, Simoro, Tufa, Lindu, dan Danau Tambing. Dari semuanya, Danau Tambing lah yang paling mudah diakses. Jaraknya hanya 55 kilometer dari Palu dan letaknya di ketinggian 1.700 meter di atas permukaan laut. Balai Taman Nasional Lore Lindu mencatat, sekitar 200 jenis burung ada di sini yang 30 persennya endemik (tidak ada di tempat lain).


Idris Tinulele (40), relawan yang peduli terhadap burung, mengatakan jika ingin melihat burung di Danau Tambing harus meluangkan banyak waktu. “Rugi bila satu atau dua jam karena kita baru mendengar suaranya saja. Bila empat hingga lima hari kita akan melihat hingga 100 ekor,” kata Idris yang bisa menirukan berbagai suara burung.


Idris juga menceritakan pengalamannya kala menemani wisatawan asal Swedia yang tidak mau kembali sebelum melihat kancilan ungu. 


“Untungnya, kami melihat si Maroon-backed Whistler ini. Saking senangnya, turis ini memberi saya uang,” ujarnya terkekeh.


Namun begitu, Idris juga khawatir akan keberadaan burung-burung di sini. Pasalnya, masih banyak perusak lingkungan yang mengambil kayu dari areal taman nasional ini. Belum lagi, kawasan pengamatan burung ini dekat dengan masyarakat yang tinggal di Dongi-Dongi. 


Ikut menjaga 


Masyarakat Dongi-Dongi memang tinggal di kawasan TNLL. Sejak 1970-an mereka sudah menetap di sana. Menurut data Balai TNLL, ada sekitar 800 lebih keluarga yang tinggal di sana. Dulu, mereka tidak mau dipindahkan, kata Kepala BIdang Teknis Konservasi Balai Besar TNLL, Ahmad Yani. Tapi sekarang mereka sudah mau bekerjasama dengan Pemerintah. 


“Sejak 2012 hingga 2014, mereka menerima program rehabilitasi hutan dan lahan (RHL). Jadi, areal yang pernah mereka rambah sebagian sudah direhabilitasi kembali. Dengan program ini mereka kembali menanami hutan yang pernah mereka rambah. Kegiatan ini hasil kerja sama TNI, masyarakat, kelompok pencinta alam, dan media,” kata Ahmad Yani.


Menurut Ahmad Yani, masyarakat Dongi-dongi sudah punya pandangan yang berbeda soal alam. Kalau awalnya mereka tidak peduli  dan terus merambah, kini mereka sadar dengan adanya banjir bandang dan tanah longsor yang pernah menimpa daerah mereka. Diperkirakan mencapai 3.000 hektar. Wilayah-wilayah yang pernah dirambah kini sudah ditanami pepohonan seperti palapi, durian, cempaka, kemiri dan lain-lain.


Dengan makin hijaunya kawasan pengamatan burung di Danau Tambing, maka kondisi diharapkan akan makin membaik. “Siapa saja yang ingin amati burung tidak akan kesulitan lagi melihat mereka.”


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 13

Kabar Baru Jam 12

Kabar Baru Jam 11

Kenali Nusantara

Kabar Baru Jam 10