Bagikan:

Jika SBY Menolak, Kalpataru Akan Diletakkan di Depan Istana

KBR68H, Jakarta - Tiga tokoh pegiat lingkungan dari Sumatera Utara akan mengembalikan penghargaan dari pemerintah. Pasalnya, selama ini pemerintah tidak pernah mendukung usaha mereka menjaga lingkungan. Salah seorang penerima penghargaan dari Sumatera Ut

NUSANTARA

Sabtu, 31 Agus 2013 13:46 WIB

Author

Nur Azizah

Jika SBY Menolak, Kalpataru Akan Diletakkan di Depan Istana

Kalpataru, SBY, Wana Lestari, Sumatera Utara

KBR68H, Jakarta - Tiga tokoh pegiat lingkungan dari Sumatera Utara akan mengembalikan penghargaan dari pemerintah. Pasalnya, selama ini pemerintah tidak pernah mendukung usaha mereka menjaga lingkungan.

Salah seorang penerima penghargaan dari Sumatera Utara, Hasoloan Manik mengatakan pemerintah justru memberi izin pengelolaan hutan yang seharusnya dilindungi. Menurut Hasoloan, penghargaan dari pemerintah itu tidak berdampak pada upaya penyelamatan lingkungan.

Hasloan Manik mengatakan lebih dari 2,800 hektar kawasan hutan di Kabupaten Dairi dan Pakpak Barat justru dikelola swasta atas izin dari pemerintah. Akibatnya, 15 Daerah Aliran Sungai atau DAS di Kabupaten Dairi, Samosir dan Toba Samosir rusak serta kering.

"Kawasan hutan yang seharusnya dilindungi, ternyata sudah direstui oleh pemerintah sendiri untuk dikelola pihak ketiga. Di pinggiran kawasan Hutan Dairi atau Pakpak Barat ada sekitar 2.850-an hektar. Ditambah lagi penebangan-penebangan liar dilakukan masyarakat yang tidak memiliki izin---tidak diawasi pemerintah,  juga tidak diberikan sanksi hukum. Makanya kita sudah membuat surat beberapa kali ke instansi pemerintah. Kita keberatan mendapat perusakan lingkungan itu. Tapi tetap juga tidak pernah direspon pemerintah," terang Hasoloan kepada KBR68H, Sabtu (31/8).

Pengembalian penghargaan lingkungan akan diarak dari Lapangan Monas menuju Kementerian Kehutanan dan Istana Presiden di Jakarta, pada 3 September mendatang. Pengembalian penghargaan akan diiringi pergelaran Kebudayaan Adat Tapanuli.

Hasoloan Manik dari Kabupaten Dairi menerima penghargaan Kalpataru pada 2010 dalam kategori penyelamat lingkungan.

Penerima penghargaan lain adalah Marandus Sirait (dari Kabupaten Samosir), menerima Kalpataru pada 2005 untuk kategori perintis lingkungan. Sedangkan Wilmar Eliaser Simanjorang, warga Kabupaten Toba Samosir, menerima penghargaan Wana Lestari dari Kementerian Kehutanan pada 2011.

Jika Presiden menolak menerima, maka penghargaan Kalpataru dan Wana Lestari akan diletakkan di depan Istana Negara.

Hingga kini surat penyerahan penghargaan yang dikirimkan kepada kementerian Kehutanan dan Istana Presiden belum juga mendapatkan balasan.

Sebelumnya, dua warga Sumatera Utara, Wilmar Eliaser Simanjorang dan Marandus Sirait, pada 2 Agustus 2013 juga telah mengembalikan dua penghargaan "Danau Toba Award" kepada Gubernur Sumatera Utara.

Editor: Agus Luqman

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Mengkritik Klaim Pemberantasan Korupsi di Era Jokowi

Most Popular / Trending