Setelah Gelar Barang Bukti Santoso, Ini Simpulan Satgas Tinombala

Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah yang tergabung dalam Satuan Tugas Operasi Tinombala menyimpulkan, jaringan teroris Santoso bertahan hidup dengan mengandalkan hasil hutan.

NUSANTARA

Minggu, 24 Jul 2016 01:04 WIB

Author

Aldrimslit Thalara

Setelah Gelar Barang Bukti Santoso, Ini Simpulan Satgas Tinombala

Puluhan item barang bukti yang ditemukan saat kontak tembak di pegunungan wilayah Desa Tambarana, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. (Foto: KBR/ Aldrim Thalara)

KBR, Poso - Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah yang tergabung dalam Satuan Tugas Operasi Tinombala menyimpulkan, jaringan teroris Santoso bertahan hidup dengan mengandalkan hasil hutan. Kapolda Sulawesi Tengah Rudy Sufahriadi mengatakan, barang bukti berupa sejumlah jenis makanan, sayur-sayuran dan kopi, polisi memastikan tak ada pasokan dari warga di perkampungan setempat.

"Ini adalah barang bukti yang ada pada Santoso dan Mukhtar,saya jelaskan di sini barang bukti yang ada di sini saya dan teman teman menyimpulkan bahwa santoso tidak mungkin mendapatkan suplai makanan bawa atau warga" ungkap Rudi Sufahriadi di Poso, Sabtu (23/7/2016).

Barang bukti lain yang juga disita adalah berbagai jenis senjata api, majalah, amunisi dari berbagai kaliber, detenator aktif dan peralatan memasak. Sabtu (23/7/2016) kemarin, Polda Sulawesi Tengah menggelar sejumlah barang bukti milik dua buronan teroris Santoso alias Abu Wardah dan Mukhtar alias Kahar. Benda-benda tersebut merupakan temuan polisi pasca kontak senjata di Desa Tambarana, Kecamatan Poso Pesisir pada Senin (18/7/2016) lalu yang mengakibatkan dua teroris itu tewas.

Yang cukup menonjol di antaranya senjata api jenis M16 satu pucuk, tiga buah magazine, 82 butir amunisi dari berbagai kaliber serta 12 buah detonator yang masih aktif. Ditemukan juga pakaian, alat-alat memasak, lampu penerangan serta bahan-bahan makanan .

Barang-barang ini menurut Kapolda Sulawesi Tengah Rudy Sufahriadi yang juga penanggung jawab Operasi Tinombala 2016, menyatakan bahwa seluruh barang bukti yang digelar merupakan milik Pimpinan Kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT), Santoso dan anggotanya, Mukhtar.

Pasca  tewasnya Santoso dan Muchtar, pihak kepolisian daerah Sulawesi Tengah memastikan tidak akan mengurangi jumlah pasukan yang kini masih terus melakukan tugas perburuan terhadap sisa Daftar Pencarian Orang (DPO) yang diperkirakan masih bersembunyi di wilayah Pegunungan Poso Pesisir Utara.

Selain melakukan pengejaran dengan melibatkan ribuan pasukan, kepolisian setempat juga terus berupaya menempuh langkah-langkah persuasif agar buronan segera menyerahkan diri.


Pengejaran 18 Orang

Pasca tewasnya Pimpinan Kelompok Teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Santoso dan anggotanya Mukhtar, kepolisian memastikan takkan mengurangi jumlah pasukan yang kini masih terus memburu 18 anggota lainnya. Sebelumnya, masih ada 19 buronan, namun pagi tadi dilaporkan bahwa istri pentolan Mujahidin Indonesia Timur Santoso, Jumiatin, alias Ummi Delimah telah tertangkap.

Satuan Tugas Operasi Tinombala 2016, menangkap Jumiatin alias Ummi Delimah, istri Santoso, yang selama ini menyertai Santoso dalam persembunyian di Gunung Biru, Poso Pesisir, dan Lembah Napu. Lantas, Ummi Delilah dibawa ke Pos Komando Taktis Operasi Tinombala Di Poso Pesisir Utara. Rencananya, dia akan segera dibawa ke Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah, untuk dimintai keterangan.

Sabtu (23/7/2016) siang, usai pemakaman Santoso alias Abu Wardah, di Dusun Landangan, Desa Lantojaya, Poso Pesisir Utara, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, Satgas Tinombala menyampaikan pernyataan resmi terkait penangkapan Jumiatun alias Ummi Delimah. Perempuan asal Bima, Nusa Tenggara Barat ini kemudian oleh Satgas ditunjukkan sejumlah barang bukti, yang didapat saat kontak senjata yang menewaskan Santoso alias Abu Wardah, dan Muchtar alias Kahar.

Ummi Delimah ditangkap satuan tugas operasi di Tambarana pada paginya ketika hendak turun kampung, mencari makan.

Sambil memperlihatkan foto Jumiatun, penanggungjawab operasi tinombala 2016 Rudy Sufahriadi, menjelaskan penangkapan Perempuan Bima itu, kepada media di Kantor Kepolisian Resor Poso, sabtu siang.

"Tadi pagi pukul 09.00 kita menangkap dpo atas nama Jumiatun alias Ummi Delima istri kedua Santoso alias Abu Wardah, ditemukan ketika turun kampung, ditangkap oleh satuan tugas yang ada di sana, ketika turun kampong," ungkap Rudy Sufahriadi, sebagai Penanggung jawab Operasi (PJO) tinombala 2016.

Dengan ditangkapnya Jumiatun alias Ummi Delimah, berarti saat ini, tersisa dua perempuan yang tergabung dalam kelompok Mujahidin Indonesia Timur.




Editor: Nurika Manan

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Pemerintah akan Evaluasi Peningkatan Serapan Anggaran

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17