Khawatir Punah, Warga Ende di Kupang NTT Berupaya Selamatkan Bahasa 'Lio'

"Akhirnya muncul kursus-kursus kilat, jangan sampai di tempat arisan nanti kena sanksi," kata pengurus warga Moni di Kupang, Yoseph.

BERITA | NUSANTARA

Rabu, 20 Jul 2016 15:40 WIB

Author

Silver Sega

Khawatir Punah, Warga Ende di Kupang NTT Berupaya Selamatkan Bahasa 'Lio'

Aktivitas warga Kampung Adat Nggela di Kabupaten Ende, NTT. Warga Ende di Kupang berupaya menyelematkan bahasa lokal Lio dari ancaman kepunahan. (Foto: tourism.nttprov.go.id)



KBR, Kupang - Warga Kota Kupang asal Moni di Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT) mulai menggalakan penggunaan Bahasa Lio di kalangan warga Moni di Kota Kupang.

Pengurus warga Moni di Kupang, Yoseph Meba mengatakan bahasa Lio dikhawatirkan punah karena kini semakin sedikit warga yang menggunakan bahasa daerah itu.

Yoseph mengatakan, kini setiap ada pertemuan, warga Moni di Kupang, diwajibkan menggunakan bahasa Lio.

"Berbahasa Ende dan Bahasa Lio. Kami khawatir, jangan sampai anak-anak kita besar di kota, mereka kemudian jarang pulang kampung dan tidak mengenal bahasa ibu. Maka kami mewajibkan setiap kali ketemu di arisan bulanan, yang kita sudah tentukan tempatnya dan tanggalnya, di sana wajib bahasa Lio," kata Yoseph Meba di Kupang, Rabu (20/7/2016).

Aturan itu sempat memicu protes dari keluarga warga Moni yang bukan orang Ende atau Lio, terutama anak-anak menantu.

"Tapi akhirnya muncul kursus-kursus kilat, jangan sampai di tempat arisan nanti kena sanksi. Jadi yang punya suami Ende mereka belajar mati punya di rumah di suaminya jangan sampai kena sanksi ketika tidak bisa berbahasa Ende lio," lanjut Yoseph.

Pengurus warga Moni di Kota Kupang Yoseph Meba menambahkan, pengguna atau penutur bahasa Lio cukup banyak.

Selain sebagian besar warga kabupaten Ende merupakan penutur bahasa lio, sebagian warga yang berada di kabupaten sikka juga menggunakan bahasa daerah itu.

Meski penutur Bahasa Lio cukup banyak, dia khawatir, suatu saat Bahasa Lio akan punah karena semakin sedikit penuturnya. Apalagi generasi sekarang sudah lebih banyak menggunakan bahasa Indoesia.

Editor: Agus Luqman
 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Pemerintah akan Evaluasi Peningkatan Serapan Anggaran

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17