Ketua Umum PBNU: Kegiatan Bersama Antisipasi Dini Konflik Antar Umat

Pemerintah dan tokoh masyarakat baru bertindak jika sudah terjadi gesekan antar kelompok.

BERITA | NUSANTARA

Minggu, 31 Jul 2016 22:04 WIB

Author

Zainul Arifin

Ketua Umum PBNU: Kegiatan Bersama Antisipasi Dini Konflik Antar Umat

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj. Foto: Antara


KBR, Malang – Ketua Umum Pengurus Besar Nadhatul Ulama (PB NU), KH Said Aqil Siradj menyarankan kegiatan bersama antar umat beragama lebih sering dilakukan. Selain membangun toleransi, kegiatan tersebut, kata dia, dapat mengantisipasi terjadinya konflik sosial seperti di Tanjung Balai, Sumatera Utara.


“Sebenarnya kita harus antisipasi, bukan hanya ketika setelah konflik baru kita ke sana beramai–ramai mempertemukan tidak, harus ada kegiatan masyarakat yang sifatnya kebersamaan. Apa itu koperasi bareng, bagi-bagi sembako bersama muslim dan non muslim mungkin tak akan terjadi seperti itu,” kata Said di Malang, Minggu (31/7).

Ia menambahkan, solusi utama adalah membangun kebersamaan antar kelompok sejak awal. Pemerintah dan tokoh masyarakat baru bertindak jika sudah terjadi gesekan antar kelompok.

“Kalau sudah meledak baru ramai–ramai ke sana, ada pertemuan antar agama. Kalau sudah kebakaran baru datang,” ucapnya.

Baca: Aliansi Sumut Bersatu: Kesepakatan Damai Tak Cukup Redam Konflik

Said Aqil menyatakan, setiap konflik adalah akibat dari akumulasi problem sosial. Baik itu akibat dari kesenjangan ekonomi, sosial, budaya, intelektual dan sebagainya. Membangun kebersamaan dan juga menekan kesenjangan bisa memutus akar konflik tersebut.

Sebelumnya, konflik terjadi di Kota Tanjung Balai, Sumatera Utara. Dari laporan tim pendamping yang diterjunkannya, diperoleh data ada 14 tempat ibadah yang mengalami penyerangan, dua di antaranya sudah bisa digunakan kembali yakni satu Vihara dan satu Klenteng.

Baca juga: Kerusuhan Tanjung Balai, Menkopolhukam: Penyelesaian Bukan dengan Main Hakim Sendiri

Editor: Sasmito

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Kesiapan Mental sebelum Memutuskan Menikah

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Vaksinasi "Drive Thru" Pertama Indonesia