Warga Sintang Berjuang Selamatkan Danau yang Ditimbun Demi Kebun Sawit

Tiga danau sudah hilang, ditimbun untuk membangun kebun sawit. Warga kehilangan sumber air.

NUSANTARA

Senin, 21 Jul 2014 14:09 WIB

Author

Mongabay-Green Radio

Warga Sintang Berjuang Selamatkan Danau yang Ditimbun Demi Kebun Sawit

Sintang, danau, kebun sawit, Mongabay

Rayendra tak bisa lagi memancing dengan leluasa. Sejumlah danau di Bumi Senentang, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat sudah ditimbun demi kebun sawit. Ketua SIntang Fishing Club ini mengaku punya bukti. 


“Saya bisa menunjukkan bukti dan dokumentasi perusahaan sawit yang membuka lahan di Danau Jentawang, Danau Jemut dan Danau Semetung di Kecamatan Ketungau Hilir,” kata Rayendra. Padahal, lanjutnya, ketiga danau itu dulu jadi primadona ikan air tawar di Kabupaten Sintang. 


Karena ditimbun, ekosistem di danau pun rusak. Air Sungai Ketungau jadi keruh dan beracun. Danau yang semula jadi harapan masyarakat, kini kering kerontang. Danau di Kecamatan Sintang dan Binjai Hilir ikut terancam juga oleh kehadiran kebun kelapa sawit. 


Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Kabupaten Sintang, Elisa Gultom mengaku belum mendapat laporan mengenai perusahaan sawit yang menimbun danau untuk ditanami sawit. “Begitu juga soal dugaan perusahaan melanggar buffer zone, kami belum mendapat laporan itu,” katanya dikonfirmasi di Sintang.


Gultom juga tak yakin perusahaan sawit menimbun danau. “Mungkin saja ada pekerjaan penimbunan yang dilakukan perusahaan masuk ke sekitar danau. Kalau sengaja ditimbun saya tidak yakin,” ucapnya.


Jika perusahaan sawit terbukti melanggar buffer zone dan menimbun danau untuk ditanami sawit, Dishutbun akan meminta perusahaan untuk mencabut kembali sawit yang sudah ditanam. “Ada area yang boleh ditanam dan tidak. Kami meminta perusahaan mengoptimalkan lahan yang ada untuk ditanam, bukan melanggar buffer zone,” kata Gultom.


Demi mencegah kerusakan lebih parah, Sintang Fishing Club dan sejumlah LSM berencana mengonservasi hutan dan danau. Masyarakat akan dijadikan ujung tombak dalam mengembalikan wisata ekologi di Sintang. 


“Kami menamakannya konservasi berbasis masyarakat. Dalam praktiknya, kami hanya memulai, kemudian masyarakat yang melanjutkan dan menjaga danau yang sudah dikonservasi. Tujuannya agar masyarakat semakin arif dan bijaksana dalam mengelola alam. Agar, danau yang mereka jaga bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan mereka, minimal untuk dikonsumsi,” lanjut Rayendra.


Untuk itu, Sintang Fishing Club melakukan restocking 20 ribu bibit ikan berbagai jenis di Danau Tebing Raya, Kecamatan Sintang. Kegiatan itu diharapkan dapat meminimalisir illegal fishing yang dilakukan masyarakat, karena berdampak bagi kelangsungan hidup ekosistem yang berada di air.


“Ke depan akan kami lakukan juga di danau-danau lain di Kabupaten Sintang. Kami berharap, setelah ikan dilepas, mereka bisa menjaga dan memetik hasilnya,” kata Rayendra. 


Kegiatan restocking bibit ikan, juga diharapkan menjadi pelajaran bagi generasi muda untuk mencintai lingkungan. “Restocking pertama ikannya sudah besar-besar. Mudah-mudahan ini akan terus terjaga,” ucapnya.


Saat ini upaya konservasi dengan cara restocking baru fokus di Danau Tebing Raya. “Masyarakat sudah sepakat untuk menjaga Danau Tebing Raya karena wilayah itu sudah dijadikan ekowisata mancing di Kabupaten Sintang.” 


Tulisan ini hasil kerjasama Green Radio dan Mongabay




Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Rangkuman Berita Sepekan KBR

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17