Tambang Emas Mengancam Warga dan Alam Pegunungan Poboya

Warga yang semula bertani, berduyun-duyun jadi petambang emas.

NUSANTARA

Rabu, 30 Jul 2014 10:26 WIB

Author

Mongabay-Green Radio

Tambang Emas Mengancam Warga dan Alam Pegunungan Poboya

Tambang emas, Poboya, Palu, Mongabay

Pegunungan Poboya di timur Kota Palu, Sulawesi Tengah, tampak gersang. Yang terlihat di sana bukan lagi pohon hijau melainkan liang-liang yang digali ribuan petambang setiap hari untuk mengambil bebatuan yang mengandung serat emas. Batu-batuan itu lantas dimasukkan ke karung goni, lantas dibawa ke mesin tromol untuk dihancurkan. Bayarannya sekitar 5-10 ribu rupiah, tergantung jarak lokasi liang ke mesin tromol. 


Para petambang di sini adalah petambang tradisional. Modal kerja mereka hanya palu, betel, linggis dan besi ulir – jauh dari standar keamanan. Tak jarang petambang tewas tertimbun kala menggali liang di perut bumi. 


“Temanku tertimbun tepat di depan mata. Tapi, kami tidak bisa membantu karena peralatan yang terbatas. Akhirnya, ia meninggal. Trauma juga. Tapi, kami tetap harus mencari emas. Kalau tidak, mau makan apa kita punya keluarga,” kata Tasman (51), petambang asal Gorontalo.Para petambang sebagian besar adalah penduduk lokal, ada juga yang berasal dari Kalimantan, Kendari dan Gorontalo.


Data Jaringan Anti Tambang (Jatam) menunjukkan jumlah petambang saat ini mencapai 20 ribu orang. Menurut Direktur Jatam Sulawesi Tengah Sahruddin Ariestal Douw, sejak 2012 angka petambang turun drastis karena terbukanya tambang rakyat di Ambon. “Tetapi 2013 jumlah petambang di Poboya bertambah lantaran tambang rakyat di Ambon tutup.”


Dulu petani 


Sebelum menjadi petambang, dahulunya masyarakat Poboya merupakan petani bawang; peternak sapi, domba, dan kambing; serta pengepul rotan. Semula mendulang emas adalah pekerjaan sampingan, sampai hadirnya mesin tromol, yang bisa memisahkan bijih emas dari material lainnya dengan cepat. 


Sejak itulah emas makin terlihat berkilau bagi warga Pohoya. Ribuan orang dari berbagai daerah di Sulawesi hingga Kalimantan mengadu nasib ke sini. Poboya menjadi tanah harapan, layaknya Tasman dan Awi yang datang.


Saat ini, sekitar 20 ribu tromol yang menggunakan mercuri beroperasi di tambang emas ini. Wahana Lingkungan (Walhi) Sulawesi Tengah memperkirakan sudah puluhan juta ton mercuri terlepas ke udara dan berkontaminasi dengan zat lain. Direktur Walhi Sulteng, Ahmad mengatakan pastinya sudah lebih dari 18 juta ton yang terlepas ke udara.


“Kerusakan lingkungan di Poboya ini sudah terjadi sejak enam  tahun silam. Aktivitas tambang emas yang menggunakan mesin tromol dengan zat-zat berbahaya sudah ada saat itu dengan skala besar. Kalau satu tahun saja zat berbahaya seperti mercuri yang terlepas ke udara mencapai 18 juta ton, bagaimana bila enam tahun,” tandas Ahmad.


Supaya mercuri tak terlalu banyak dipakai, Pemkot Palu menyarankan penggunaan sianida di tambang emas Poboya. “Dari semua ahli lingkungan, sianida itu lebih ramah lingkungan daripada mercuri. Mercuri sama sekali tidak terurai dan sangat berbahaya. Kalau secara teknis yang dijelakan oleh pakar-pakar lingkungan dari Jakarta baik dari Kementerian Lingkungan Hidup maupun staf dari Pak Emil Salim, mereka tidak mentolerir mercuri. Cuma, karena masyarakat sudah akrab dengan mercuri maka kita memberikan penyuluhan dan arahan supaya menggunakan sianida,” kata Muhalnan Tombolotutu, Wakil Walikota Palu.


Namun Walhi Sulawesi Tengah mempertanyakan siapa yang akan mengawasi penggunaan sianida dan mercuri. Sianida berfungsi untuk memisahkan kandungan emas dan kandungan mineral lainnya. Namun, sisa limbah sianida tetap membahayakan manusia,  makhluk hidup, serta mencemari lingkungan. Sodium sianida, racunnya diklaim lebih mematikan dari potassium sianida – dapat membunuh dalam waktu kurang dari 3 jam. 


Saat ini Jatam tengah mendesak pemerintah untuk segera membuat Perda tentang pengelolaan tambang rakyat, mengingat ada 8 hektar tambang yang dikelola rakyat. Dengan adanya Perda, rakyat bisa mendapat perlindungan lebih dalam melakukan pekerjaan mereka. 


Tulisan ini kerjasama Green Radio dengan Mongabay

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 17

Prabowo Masuk Kabinet, Pengusutan Kasus HAM Diprediksi Mangkrak

Kabar Baru Jam 15

Kabar Baru Jam 14

Kabar Baru Jam 13