Tambang Emas dan Kebun Sawit di Sintang Cemari Air Warga

BLH tak kuasa menindak.

NUSANTARA

Rabu, 30 Jul 2014 11:37 WIB

Author

Mongabay-Green Radio

Tambang Emas dan Kebun Sawit di Sintang Cemari Air Warga

Sintang, tambang emas, sawit, krisis air, Mongabay

Masyarakat Desa Sepiluk, Kecamatan Ketungau Hulu, kini kesulitan air bersih. “Ada tempat-tempat tertentu yang kesulitan dapat air bersih. Sungai yang dulunya jadi andalan masyarakat, tak bisa lagi digunakan karena sungai sudah dikelilingi kebun sawit,” kata Mardiansyah, anggota DPRD Sintang asal Ketungau Hulu.


Ia mengaku sudah berkali-kali menyampaikan soal ini kepada Pemda Sintang untuk segera menyelesaikan krisis air di daerahnya. “Kalau ini dibiarkan, sama saja membunuh masyarakat pelan-pelan.”


Demi air bersih, warga Sepiluk mesti berjalan jauh atau membeli air. “Inilah kondisi yang terjadi. Makanya saya minta pemerintah turun langsung untuk melihat kondisi.” 


Sungai di Sepiluk bukan satu-satunya korban. Menurut data Badan Lingkungan Hidup Sintang, pencemaran terjadi di sejumlah sungai. “Air sungai di Sintang sebagian besar tak layak konsumsi, termasuk Sungai Kapuas dan Sungai Malawi, kecuali harus dimasak terlebih dahulu,” jelas Junaidi, Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran Kerusakan Lingkungan, BLH Sintang. 


Dalam setahun, BLH mengecek sampel air sungai di setiap kecamatan sebanyak dua kali. “Dari 23 parameter yang kami ukur, kondisi sungai sudah tercemar, tak layak diminum secara langsung.”


Penyebabnya, kata Junaidi adalah pembukaan lahan kebun sawit juga tambang emas ilegal di sungai. “Apalagi tidak sedikit penambang yang menggunakan merkuri yang berbahaya.” Di hulu Sungai Sayeh terkenal sejak dulu sebagai tempat pertambangan emas masyarakat. Para penambang tak hanya warga setempat, tapi juga warga dari daerah lain. 


Akibatnya, air tercemar, sungai besar mengalami pendangkalan akibat hutan yang mulai gundul. “Makanya jangan heran, air cepat sekali surut meski kemarau tidak berapa lama.”


Sayangnya BLH mengaku tak bisa berbuat banyak. “BLH hanya rutin melakukan deteksi saja. Hasil deteksi sungai akan dilaporkan ke instansi berwenang untuk ditindaklanjuti,” jelas Junaidi. 


Ajang Pemilu Legislatif maupun Pemilu Presiden pun tak bisa jadi momentum untuk membalik nasib pencemaran air di Sintang. Saat jelang Pemilu, tidak ada seorang pun yang berani mengambil risiko berbicara tentang pertambangan emas dan pencemaran akibat kebun sawit. “Mereka takut kehilangan konstituen pendukung.”


Tulisan ini hasil kerjasama Green Radio dan Mongabay


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Rangkuman Berita Sepekan KBR

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17