Stop Tuding MRP dan Gereja Sebagai Separatis

Gubernur Papua, Lukas Enembe meminta pemerintah pusat berhenti mengaitkan Majelis Rakyat Papua (MRP) dan gerejasebagai bagian dari gerakan separatis Papua Merdeka.

NUSANTARA

Selasa, 23 Jul 2013 16:55 WIB

Author

Andi Iriani

Stop Tuding MRP dan Gereja Sebagai Separatis

mrp, gereja, separatis papua, Lukas Enembe

KBR68H, Jayapura – Gubernur Papua, Lukas Enembe meminta pemerintah pusat berhenti mengaitkan Majelis Rakyat Papua (MRP) dan gerejasebagai bagian dari gerakan separatis Papua Merdeka.

Menurutnya, tudingan pemerintah pusat terhadap MRP sebagai lembaga separatis terbukti ketika menolak terpilihnya kembali Hana Hikoyabi, bekas Wakil Ketua MRP periode sebelumnya, sebagai anggota MRP karena dituding mendukung gerakan separatis. Tudingan yang sama juga dialamatkan kepada bekas Ketua MRP periode lalu, Agus Alua yang diganti karena meninggal dunia.

“Hari ini kita mau tegaskan bahwa Majelis Rakyat Papua bukan lembaga separatis. Ini lembaga terhormat itulah sebabnya saya sebut Yang Mulia karena kedudukan mereka sangat kita hormati, kedudukan, eksistensi, harga diri orang Papua. Oleh karena itu harus kita akui mereka adalah mitra pemerintah, mereka adalah pengawal NKRI, mereka adalah lembaga yang kita akui,” tegas Lukas Enembe.

Terkait dengan gereja yang dituding melindungi kelompok separatis, Lukas menegaskan, tudingan itu sangatlah tidak benar. Dijelaskan, keberadaan gereja di tanah Papua sudah ada sebelum adanya pemerintahan. Bahkan berawal dari gereja itulah kemudian ada pemerintahan.

Lebih jauh katanya, selama delapan tahun berdiri MRP sebagai lembaga kultural yang mewakili tiga tungku, adat, agama dan perempuan tersebut selalu dicap sebagai separatis. Padahal MRP merupakan lembaga resmi yang dibentuk oleh Negara Republik Indonesia sehingga bagaimana mungkin lembaga resmi milik pemerintah namun bertentangan dengan aturan pemerintah.

Dirinya berharap ke depan baik MRP dan Gereja bisa mendukung segala program pembangunan pemerintah dalam pembangunan dan melayani masyarakat dengan baik. Sehingga tudingan tersebut lambat laun akan  hilang.

Editor: Antonius Eko 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 14

Kabar Baru Jam 13

Korona Mengancam Masa Depan Anak

Kabar Baru Jam 12

Bagaimana Kenormalan Baru bagi Aktivitas Perkantoran?