covid-19

Semburan Lumpur di Cirebon, Berbau Menyengat dan Diduga Beracun

Kawasan tempat munculnya semburan juga pernah dijadikan sebagai sumber panas bumi yang diproyeksikan di Kuningan, Jawa Barat

BERITA | NUSANTARA

Jumat, 04 Jun 2021 11:51 WIB

Author

Frans Mokalu

Semburan Lumpur di Cirebon, Berbau Menyengat dan Diduga Beracun

Petugas dari BPBD Kabupaten Cirebon memeriksa dan mengamankan lokasi semburan lumpur di Desa Cipanas, Kamis, (3/6/ 2021). Foto: Frans Mokalu/KBR

KBR, Cirebon- Warga Desa Cipanas, Kecamatan Dukupuntang, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat dikejutkan dengan munculnya semburan lumpur. Semburan lumpur tersebut membentuk kubangan, meletup-letup disertai bau menyengat. Kondisi ini dikeluhkan warga sekitar.

Menurut informasi warga dan pengakuan salah satu pegawai pemerintah Desa Cipanas Yayan Ahmad Sidik, semburan lumpur itu muncul empat bulan lalu. Lokasinya sekitar 400 meter dari permukiman warga.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cirebon Alex Suheriyawan mengatakan semburan lumpur sempat muncul di lokasi yang sama pada 2014. Namun, ditutup oleh warga sekitar. Kini semburan muncul kembali.

"Dari observasi yang kita lakukan awalnya kecil. Kemudian berpindah tempat dan membesar dan diduga mengandung belerang," katanya, Kamis, (3/6/2021).

Pabrik Pasta Gigi

Sementara itu, menurut Pelaksana tugas Kepala Seksi Penambangan dan Air Tanah Dinas ESDM Provinsi Jawa Barat Arip Budiman, pada 1970 lalu ada pabrik pasta gigi yang mengambil bahan dasar dari sekitar lokasi dan tutup pada 1980.

Kata dia, kawasan tempat munculnya semburan juga pernah dijadikan sebagai sumber panas bumi yang diproyeksikan di Kuningan, Jawa Barat

"Dahulu ada pabrik pasta gigi yang memanfaatkan kalsit dari sini, tapi tutup sekitar tahun 1980. Tahun 2014 lalu, kawasan ini masuk daerah Gunung Kromong yang sempat dijadikan sumber energi panas bumi untuk di Kuningan. Tapi entah kurang potensial atau apa sehingga tidak digunakan lagi," ujarnya.

Ia juga menjelaskan penyebab munculnya letupan di dalam semburan lumpur.

"Kalau yang sekarang dari air hujan yang terjebak dan tidak menguap, kalau tidak ada hujan itu uapnya hanya keluar saja seperti biasa," terangnya.

Arip mengaku Dinas ESDM Jawa Barat telah mengambil sampel air, lumpur, dan batuan untuk diteliti lebih lanjut, karena diduga mengandung belerang, fosfor, dan sedikit beraroma minyak tanah. Beberapa hewan ditemukan mati sekitar lokasi seperti burung dan katak.

"Untuk sementara kami menyarankan pihak desa membuat pagar untuk menghindari aktivitas yang tidak diinginkan yang menyebabkan kematian. Karena sudah lihat di lingkungan sini burung-burung juga pada mati," pungkasnya.

Editor: Sindu Dharmawan

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Siapkan Pembelajaran Tatap Muka Digelar?

Kabar Baru Jam 8

Wisata Sehat di Tengah Pandemi

Desa Wisata Tak Kehilangan Pesona