Longsor Banyumas, Geolog Rekomendasikan Relokasi Warga

Geolog Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Fadlin menilai, tingkat kerawanan longsor di empat dusun di Desa Watuagung, Kecamatan Tambak, Banyumas, Jawa Tengah semakin parah.

BERITA | NUSANTARA

Kamis, 30 Jun 2016 11:42 WIB

Author

Muhamad Ridlo Susanto

Longsor Banyumas, Geolog Rekomendasikan Relokasi Warga

Petugas mengoperasikan eskavator untuk membuka akses jalan yang tertutup material longsor di Desa Watuagung, Tambak, Banyumas, Jateng. (Foto: Antara)

KBR, Banyumas – Ahli Geologi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Fadlin menilai, tingkat kerawanan longsor di empat dusun di Desa Watuagung, Kecamatan Tambak, Banyumas, Jawa Tengah semakin parah. Sebab menurutnya, di kawasan ini terjadi pelapukan bebatuan sehingga memperlemah daya ikat dataran dan berpotensi longsor.

"Mengenai longsor yang besar memprediksikan, merupakan bagian dari ubahan batuan yang sangat luas di daerah sini (Watuagung). Jadi tanahnya sudah mengalami pelapukan yang sangat tinggi, sehingga daya ikat tanahnya sudah sangat berkurang," jelas Fadlin di Banyumas, Kamis (30/6/2016).

Fadlin pun menjelaskan, kondisi ini disebabkan pelapukan bebatuan ribuan tahun di perbukitan dengan elevasi atau tingkat kemiringan yang tinggi. Hal tersebut diperparah dengan alih fungsi lahan dari hutan lindung menjadi lahan produksi pertanian. Akibatnya, tanah tak lagi memiliki kemampuan ikat yang kuat.

Baca Juga: 3 Daerah Masih Terisolasi dan Korban Banjir dan Longsor Jawa Tengah

Kesimpulan ini, ia dapat setelah melakukan penelitian pasca bencana longsor dan banjir bandang yang menerjang Kecamatan Tambak dan Sumpyuh pada 18 Juni lalu.

Itu sebab, ia merekomendasikan agar ratusan warga di kawasan tersebut segera direlokasi.

Longsor di Jawa Tengah, menurut Fadlin, hampir serupa dengan yang terjadi di Desa Watuagung. Bahkan ada kemungkinan bencana longsor besar jika terdapat pelapukan kubah yang besar pada suatu tempat. Curah hujan tinggi meningkatkan resiko bencana tanah longsor.

"Dipicu oleh curah hujan yang tinggi. Masalah longsor di Jawa itu sebenarnya masalah klasik. Penyebabnya hampir sama (dengan yang di Watuagung), materialnya itu-itu saja, kondisinya juga hampir sama," imbuhnya.


Masih Ada 14 Titik Rawan Longsor

Sementara, Koordinator Tambak Crisis Center (TCC) Aris Andrianto mengatakan, ancaman longsor di Kecamatan Tambak masih belum berakhir. Berdasar pantauan dan pemetaan timnya, masih terdapat 14 titik rawan longsor di Dusun Plandi.

Aris pun menjelaskan, Grumbul Plandi berada di lembah yang dikelilingi perbukitan Mahameru. Bentuknya seperti tapal kuda di mana Grumbul Plandi berada tepat di tengahnya.

Sementara di sisi tenggara, ada longsoran besar yang menerjang Grumbul dan masih berpotensi longsor. Sedangkan di bagian barat laut terdapat tujuh titik longsor di puncak bukit. Di sisi utara, lanjut Aris, tanah bergerak seluas lima hektar.

Aris menambahkan, apabila Dusun Plandi longsor dan diterjang banjir bandang, maka ia memprediksi material lonsoran akan menerjang dusun dan desa lain di kawasan bawah. Sebab, dusun ini dilintasi tiga sungai yang alirannya melalui sejumlah desa dan kecamatan.



Editor: Nurika Manan

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Polisi Sebut Pelaku Bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan Beraksi Sendiri