covid-19

Presiden Ingatkan RS Tak Tolak Pasien Pemegang KIS

Jokowi mengaku seluruh pemegang kartu sakti tersebut wajib mendapatkan pelayanan kesehatan yang semestinya.

BERITA | NUSANTARA

Selasa, 02 Jun 2015 07:18 WIB

Jokowi hadiri peringatan hari lahir Pancasila ke 70 di Kota Blitar (1/6/2015). Foto: Adhar Muttaqin

Jokowi hadiri peringatan hari lahir Pancasila ke 70 di Kota Blitar (1/6/2015). Foto: Adhar Muttaqin KBR

KBR, Blitar - Presiden Joko Widodo meminta seluruh layanan kesehatan, puksesmas dan rumah sakit yang telah terafiliasi dengan program pemerintah tidak menolak para pemegang Kartu Indonesia Sehat (KIS) untuk berobat.

Disela-sela kunjungan kerjanya di Kota Blitar, Jawa Timur, Jokowi mengaku seluruh pemegang kartu sakti tersebut wajib mendapat pelayanan kesehatan yang semestinya. Sebab seluruh pembayaran iuran asuransinya telah ditanggung pemerintah. Sehingga tidak ada alasan lagi penyedia layanan kesehatan untuk menolak pasien. 

"Pemegang kartu tidak boleh ditolak, baik di puskesmas maupun rumah sakit, karena kesehatan itu hak rakyat. Apalagi sudah pegang kartu, ada Undang-Undang Kesehatan, jadi hati-hati," kata Jokowi, Senin (1/6/2015).

Pemerintah mengakui saat ini belum seluruhnya rumah sakit di Indonesia telah terafiliasi dengan program Jokowi tersebut, namun kedepan akan terus dikembangkan hingga ke rumah sakit swasta.

Dalam rangkaian kunjungan kerjanya di Kota Blitar, Presiden Jokowi membagikan beberapa kartu sakti andalan pemerintahannya, yakni Kartu Indonesia Sehat (KIS), Kartu Indonesia Sejahtera, Kartu Indonesia Pintar dan Kartu Asistensi Penderita Disabilitas Berat.

Untuk pemagang Kartu Asistensi Disabilitas Berat, setiap bulan mendapat santunan sebesar Rp300 ribu, sedangkan pemegang Kartu Indonesia Pintar, jenjang SD mendapat bantuan sebesar Rp450 ribu, SMP Rp750 ribu dan SMA sebesar Rp1 juta.


Editor: Quinawaty Pasaribu
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Siapkan Pembelajaran Tatap Muka Digelar?

Kabar Baru Jam 8

Wisata Sehat di Tengah Pandemi

Desa Wisata Tak Kehilangan Pesona