KBR, Cilacap – Jelang Ramadhan ribuan penghayat kepercayaan dan penganut agama lokal di Cilacap, Jawa Tengah, menggelar ritual punggahan. Ritual punggahan adalah ritual tahunan yang jatuh pada Jumat besar terakhir sebelum masuk bulan Ramadhan. Penghayat kepercayaan dari Adipala, Kroya dan Cilacap Selatan berjalan sekira 40 kilometer ke makam leluhur di Bonokeling Kecamatan Jatilawang Kabupaten Banyumas.
Pemangku adat Paguyuban Resik Kubur Rasa Sejati (PRKRS), Perna Gupala mengatakan, ritual punggahan digelar mulai ratusan tahun lalu. PRKS sendiri berdiri pada tahun 1773. Ritual dimulai dengan pemberangkatan dari Pasemuan (tempat ibadah) masing-masing kelompok. Kemudian penghayat berjalan sekira 40 kilometer ke Cagar Budaya Bonokeling.
"Para anak
putu ziarah makam cikal bakal. Cikal bakal itu ya leluhur. Lalu nanti
diteruskan dengan ritual resik kubur (bersih-bersih) di leluhur orang tua
masing-masing. Nanti sore setelah selesai bertemu di pasemuan (bonokeling).
Semuanya kumpul. Acara ritual anak putu
(penghayat) dipimpin oleh kyai kunci. Jadi semua anak putu selalu mengikuti
kyaai kunci," kata Perna Gupala, Kamis (11/6/2015).
Pemangku Adat, Perna Gupala menjelaskan Kyai Bonokeling adalah leluhur yang menurunkan sejumlah percabangan kelompok penghayat adat tradisi di Cilacap. Kyai Bonokeling memiliki putra menantu bernama Mbah Ronggo yang menurunkan beberapa putra sehingga melahirkan sejumlah cabang keluarga. Antara lain, kelompok Kalikudi, Adiraja, Daun Lumbung, dan Pakuncen Kroya.
Perna Gupala menambahkan, ritual punggahan dimulai pada Rabu dengan acara persiapan, Kamis perjalanan ke Bonokeling, Jumat pagi hingga malam ritual bekten dan muji. Ritual berakhir pada Sabtu pagi saat para penghayat berjalan pulang ke Cilacap.
Editor: Quinawaty Pasaribu