Aksi SOLODARITAS Desak Hukuman Berat Pelaku Kekerasan Anak

Diantara poster turut dipajang sebuah karangan bunga, sejumlah boneka, dan tulisan SOLODARITAS, PRAY FOR ANGELINE.

BERITA | NUSANTARA

Minggu, 14 Jun 2015 16:16 WIB

Author

Yudha Satriawan

Aksi SOLODARITAS Desak Hukuman Berat Pelaku Kekerasan Anak

Warga Solo aksi solidaritas untuk Angeline. Foto: Yudha Satriawan KBR

KBR-Solo, Sebuah poster bergambar foto seorang anak terpasang di Ajang Car Free Day Solo, Minggu pagi (14/6/2015). Di antara poster anak tersebut juga turut dipajang sebuah karangan bunga, sejumlah boneka, dan tulisan SOLODARITAS, PRAY FOR ANGELINE. Salah sorang warga, Dini wulandari, mengaku ikut tanda tangan mendukung hukuman berat, hukuman mati,  untuk para pelaku kekerasan yang dialami anak-anak. Menurut Dini, pemerintah harus serius menangani dan mengusut tuntas kasus kekerasan yang dialami anak-anak.

“Saya sebagai warga biasa, melihat ada anak, diadopsi, dibunuh dengan keji, sangat miris melihatnya. Saya ikut tanda tangan di aksi ini sebagai bentuk ungkapan duka cita sekaligus mendesak pemerintah memberi hukuman seberat-beratnya kepada para pelaku. Jangan biarkan pelaku kekerasan dan kejahatan pada anak ini dibiarkan bebas, hukum berat, hukuman mati biar jera dan tidak ada lagi pelaku kekerasan pada anak dan anak biasa menikmati hidup yang aman dan nyaman.”

Alas plastik berwarna putih tampak penuh berisi ratusan tanda tangan dan ungkapan warga pada anak korban adopsi yang dibunuh itu maupun kecaman dan desakan hukuman berat untuk pelaku kekerasan pada anak. Untaian doa dan simpati dilakukan para warga.

Sebelumnya, seorang anak berumur 8 tahun, Angeline, ditemukan tewas dan dikubur di belakang rumah orang tua angkatnya di Bali. Hampir sebulan bocah ini dikabarkan hilang dari rumah. Jasad bocah ini diotopsi dan ditemukan berbagai tanda kekerasan fisik dan diduga kekerasan seksual. Kasus ini menjadi sorotan berbagai media sosial dan media massa. Angeline diadopsi orang tua angkatnya karena saat kelahirannya orang tua kandung tidak memiliki biaya persalinan. Bali pun menjadi sorotan. Selama ini Denpasar atau Bali menjadi salah satu dari 34 kota, 40 kabupaten, 11 propinsi layak anak yang dicanangkan Pemerintah hingga tahun 2015 ini.

Editor: Rony Sitanggang
 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Aplikasi LAPOR Dinilai Tidak Efektif Tanggapi Laporan Masyarakat

Kabar Baru Jam 15

Perlukah Sertifikasi Pernikahan?