Bagikan:

Sudah Sebulan Lebih Harga Bawang Merah Naik di Pontianak

Seperti, yang terpantau pada pasar tradisional Teratai di kawasan Jeruju.

BERITA | NUSANTARA | NUSANTARA

Senin, 08 Jun 2015 14:13 WIB

 Sudah Sebulan Lebih Harga Bawang Merah Naik di Pontianak

Pedagang cabai dan bawang merah. Foto: Antara

KBR, Pontianak- Kenaikan harga bawang merah di pasar tradisional Pontianak, masih terjadi sejak sebulan terakhir. Seperti yang terpantau di pasar tradisional Teratai di kawasan Jeruju. Seorang pedagang, Farida, mengatakan, harga jual bawang merah saat ini masih bertahan pada kisaran Rp 35.000 perkilogram. Jumlah itu naik dari harga normal Rp 18.000 perkilonya. Ujarnya, kenaikan itu juga sudah terjadi di tingkat agen. Dia dan pedagang lain mengaku bingung lantaran stok masih tercukupi. 

“Seperti bawang merah itu masih Rp 35.000 hingga Rp 38.000 dan kemarin itu malah Rp 40.000 perkilogram. Biasanya sih murah Rp 18.000 hingga Rp 20.000 dan sudah sebulan lebih. Kalau bawang putih masih sama Rp 18.000 perkilogram,” ujar Farida kepada KBR di Pontianak, Senin (8/6/2015).  

Dibagian lain Farida mengatakan, berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, kenaikan harga sembako dan turunannya akan terjadi pada seminggu sebelum puasa ramadhan. Menurutnya, kenaikan harga yang terjadi saat menjelang puasa tidak begitu signifikan jika dibandingkan menjelang hari raya Idul Fitri. Dimana kenaikannya pada sejumlah komoditas sembako bahkan dapat bertahan hingga pasca hari raya umat muslim itu. 

Sementara, berdasarkan pantauan terjadi penurunan harga sejumlah komoditas yang sebelumnya beberapa waktu lalu mengalami kenaikan secara fantastis. Seperti, jeruk limau yang saat ini harga jualnya sebesar RP 14.000 perkilogram. Sebelumnya, saat terjadi kelangkaan harga jual jeruk limau menebus hingga Rp 30.000 perkilogram. Serta, harga jual komoditas cabai rawit saat ini pada kisaran Rp 40.000 hingga Rp 42.000 perkilogram. Sedangkan, dari segi kualitas terjadi penurunan bagi komoditas sayur lokal seperti sawi keriting dan sawi panjang. Hal itu diakibatkan adanya curah hujan yang tinggi, sehingga berdampak pada rusaknya kualitas sayur.

Editor: Dimas Rizky

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Memuja Idola Sampai Sebegitunya

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Most Popular / Trending