Uskup Agung Bicara soal Kasus Intoleran di Yogya

Pemimpin umat Katolik di Yogyakarta dan Jawa Tengah, Uskup Agung Mgr Pujasumarta berharap agar kasus intoleransi di Yogyakarta tidak terulang kembali.

NUSANTARA , BERITA

Rabu, 04 Jun 2014 17:14 WIB

Author

Febriana Sinta

Uskup Agung Bicara soal Kasus Intoleran di Yogya

Uskup Agung, Mgr Pujasumarta

KBR, Yogyakarta – Pemimpin umat Katolik di Yogyakarta dan Jawa Tengah, Uskup Agung Mgr Pujasumarta berharap agar kasus intoleransi di Yogyakarta tidak terulang kembali.

Saat bertemu dengan Gubernur DIY, Sri Sultan HB X di Kantor Gubernur hari ini, Rabu (4/6), Uskup Agung Pujasumarta menyesalkan adanya kasus intoleransi di Kota Yogya. Insiden ini, kata dia, mencoreng nama Kota Yogyakarta yang dikenal sebagai City Of Tolerance atau Kota yang penuh toleransi.

"Kekerasan adalah merupakan solusi yang buruk. Sehingga saya berpikir kejadian tersebut melukai Yogjakarta sebagai city of tolerance, 'ujar Mgr Pujasumarta.

Ia juga meminta apapun alasannya, penegak hukum harus menyelesaikannya sesuai dengan hukum yang berlaku. “Yang melakukan hal salah harus dikenai sesuai dengan hukum yang berlaku,” tegasnya.

Uskup juga telah menugaskan pihak gereja di wilayah Banteng Sleman atau  wilayah tempat tinggal Julius Felicianus untuk membantu dan melibatkan diri terutama membantu korban. Julius menjadi korban kekerasan kelompok intoleran pada Kamis pekan lalu (29/5). Penyerangan terjadi ketika rumahnya dipakai untuk ibadat doa rosario.

"Saat ini Nurwahid (korban lainnya, red.) dan anaknya sudah boleh pulang, tetapi tidak berani ke rumah karena ketakutan. Saya harapkan masih ada kehendak baik dari siapa pun untuk membantu karena mereka takut kembali diancam," ujar Uskup.

Uskup berencana akan melakukan pembicaraan dengan kelompok pelaku. Namun ia ragu ajakannya akan disambut baik. "Itu baru pembicaraan, namun apakah mungkin terjadi kami belum tahu. Ini perlu rembukan bersama,” pungkasnya.

Editor: Anto Sidharta

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Bagaimana Kinerja KPK Setelah Komisioner Kembalikan Mandat?

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

What's Up Indonesia

Kesepakatan Batas Usia Perkawinan