Besok Ditutup, Hari Ini Dolly Masih Buka

Harus ada pendekatan yang memanusiakan para pekerja seks, juga masyarakat sekitarnya.

NUSANTARA

Selasa, 17 Jun 2014 13:06 WIB

Author

Agus Luqman

Besok Ditutup, Hari Ini Dolly Masih Buka

Dolly, Surabaya, lokalisasi

KBR, Jakarta – Besok, lokalisasi Dolly dan Jarak di Surabaya, Jawa Timur akan ditutup. Sejumlah persoalan pasca penutupan lokalisasi terbesar di Asia Tenggara ini segera mengintai, mulai dari nasib para pekerja seks di sana sampai potensi penyebaran HIV/Aids yang tidak terkendali. 


Pendamping anak dan pekerja seks di Dolly, Joris meminta supaya proses penutupan ini dilakukan tanpa menyakitkan,”Jangan sampai ada gesekan horisontal,” kata Jori dalam program Sarapan Pagi KBR, Selasa (17/6). Jori meminta supaya Pemerintah bisa memastikan kalau penutupan Dolly tidak akan membuat posisi pekerja seks makin terpuruk, begitu juga masyarakat sekitarnya. 


Sehari menjelang ditutup apakah tempat-tempat lokalisasi di Jarak betul-betul ditutup semua?


“Sampai hari ini dibuka. Hanya saja kalau malam agak sepi, dalam arti kehadiran tamu agak sepi mungkin karena kegelisahan konsumen atau apa. Pekerja seksnya kalau saya amati justru lebih banyak yang tinggal di kos-kosan.” 


Mereka masih ada di Jarak tapi tidak bekerja?


“Tetap melakukan aktivitas itu dan lainnya itu ada yang tinggal di kos-kosan sekitar lokalisasi. Saya juga menemukan teman-teman PSK yang dulu dipulangkan pemerintah sekarang datang lagi.” 


Justru kembali lagi ke Dolly?


“Bukan di Dolly tapi di sekitarnya, kos-kosan. Karena ada pembatasan oleh pemerintah, RT/RW setempat tidak boleh ada penghuni baru masuk. Mereka tinggal di kos-kosan tapi kalau malam mereka masuk ke lokalisasi.” 


Ini industri yang hidup sejak dulu, artinya kalau bicara gamblang ini adalah perdagangan manusia. Gagasan pemerintah ini sebagian warga ada yang mendukung dan sebagian tidak, ini asli warga Dolly atau mereka disetir oleh pendatang yang merasa diuntungkan dari bisnis ini?


“Kalau saya lihat mereka pengelola. Mereka yang sudah tergantung dengan usaha itu, artinya kalau saya ngomong soal perdagangan manusia kita tidak bisa hanya lihat satu sisi. Jangan hanya lihat satu perspektif persoalan perdagangan manusia tapi ada persoalan lain. Artinya kalau ngomong soal penutupan berkaitan dengan perdagangan manusia harus dilaksanakan itu, tapi prosesnya harus benar-benar bijak supaya tidak menyakiti orang lain.” 


Program ini memberikan pengalihan usaha yang sempat ditawarkan. Ini solusi yang baik atau bagaimana? 


“Maaf saya sampai sekarang ketika kita ngomong persoalan pelacuran hanya dilihat dari satu aspek misalnya persoalan ekonomi saya masih belum bisa menerima. Karena saya tidak melihat persoalan pelacuran itu persoalan ekonomi, dalam arti mereka yang sudah lama di sana. Bayangkan kalau misalnya pemerintah memberikan mereka uang Rp 5 juta, pertanyaan saya pernah tidak para pelacur ini mendapatkan uang lebih dari Rp 5 juta pasti pernah.” 


Jadi menurut Anda kalau bukan uang dan keahlian lantas apa yang bisa diberikan kepada mereka supaya misalnya berhenti menjadi pekerja seks?


“Nomor satu kita melakukan pendekatan-pendekatan memanusiakan mereka dulu.”         


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Ramai-ramai Mudik Dini

Ramadan (Masih) dalam Pandemi Covid-19

Kabar Baru Jam 8

Disability Right Fund (DRF) Mitra Disability People Organisation (DPO)