Alasan Sakit, Tersangka Korupsi di Lotim Minta Penangguhan Penahanan

Alasan sakit digunakan tiga orang tersangka proyek pembangunan Dermaga Labuhan Haji Kabupaten Lombok Timur (Lotim), NTB, untuk mengajukan penangguhan penahanan.

NUSANTARA

Senin, 30 Jun 2014 15:07 WIB

Author

Turmuzi

Alasan Sakit, Tersangka Korupsi di Lotim Minta Penangguhan Penahanan

Alasan Sakit, Tersangka Korupsi, Lotim

KBR. Mataram – Alasan sakit digunakan tiga orang tersangka proyek pembangunan Dermaga Labuhan Haji Kabupaten Lombok Timur (Lotim), NTB, untuk mengajukan penangguhan penahanan.

Menurut Juru bicara Kejaksaan Tinggi (Kejati) NTB, Made Sutapa, Kejaksaan Negeri (Kajari) Selong, Lotim, telah mengabulkan penangguhan penahanan itu.

“Kajari Selong mengabulkan permohonan para tersangka, dari tahanan rutan menjadi tahanan kota. Penangguhan penahanan dilakukan, karena para tersangka dalam keadaan sakit dan membutuhkan pengobatan, agar bisa mengikuti proses persidangan dengan baik,” kata Sutapa sambil memperlihatkan surat tembusan dari Kajari Selong, Senin (30/6).

Soal jaminan penangguhan penahanan terhadap para tersangka, kata Sutapa, tidak dengan uang, melainkan dengan saudara kandung dari ketiga tersangka. Ketiganya juga telah dicekal berpergian oleh Kajari Selong.

Sutapa mengatakan berkas ketiga tersangkan sendiri saat ini telah dilimpahkan ke Pengadilan Negeri (PN) Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Mataram untuk selanjutnya disidangkan.

Kejaksaan Tinggi (Kejati) NTB menetapkan tiga orang tersangka dalam proyek pembangunan Dermaga Labuhan Haji (DLH), Kabupaten Lombok Timur, Ichsan Suaedi selaku kontraktor proyek dari PT. Citra Gading Arsitama (CGA), Gafar merupakan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), Muh Zuhri, Manajemen Konsultan.

Berdasarkan hasil pemeriksaan penyidik Kejati NTB, pembangunan proyek tidak sesuai sepsifikasi dan mengakibatkan kerugian negara sebesar Rp8,9 miliar. Proyek pembangunan Dermaga Labuhan Haji menelan anggaran negara senilai Rp82 miliar, namun yang direalisasikan pihak kontraktor CGA hanya Rp71 miliar.

Editor: Anto Sidharta

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Perlukah Pembatasan Medsos untuk Cegah Penyebaran Hoaks?

Dampak Ekonomi Aksi 22 Mei

Pelarangan Iklan Rokok di Internet

What's Up Indonesia

Tim Hukum Prabowo-Sandi Menyebut Capres 01 Memanfaatkan Kekuasannya Dalam Pilpres 2019