Pengamat: 12 Anggota Kopassus Hanya Dijadikan Kambing Hitam

KBR68H, Jakarta - Tentara Nasional Indonesia (TNI) diminta menyelidiki pihak lain yang terlibat dalam pembunuhan tahanan di Penjara Cebongan, Sleman, Yogyakarta.

NUSANTARA

Jumat, 21 Jun 2013 08:23 WIB

Author

Ade Irmansyah

Pengamat: 12 Anggota Kopassus Hanya Dijadikan Kambing Hitam

kopassus, sidang cebongan, jadi kambing hitam, yogyakarta

KBR68H, Jakarta - Tentara Nasional Indonesia (TNI) diminta menyelidiki pihak lain yang terlibat dalam pembunuhan tahanan di Penjara Cebongan, Sleman, Yogyakarta. Pengamat militer, Anak Agung Banyu Perwita menilai masih ada instansi lain yang terlibat dalam pembunuhan berencana tersebut. Dia menduga, 12 tersangka anggota Kopassus hanya dijadikan kambing hitam dalam kasus ini.

"Buat saya yang jauh lebih penting adalah kasus ini betul-betul dibuka karena kan masih banyak faktor-faktor yang lain karena masih ada diduga aktor-aktor yang lain yang juga terlibat gitu loh. Karena sebetulnya yang harus dibongkar adalah keterlibatan institusi Kepolisian juga karena ini kan terlibat juga dalam peredaran pergerakan narkoba, aksi premanisme dan sebagainya. Sebetulnya kasus ini harus betul-betul dibuka secara lebih fair kepada masyarakat gitu loh. Karena mungkin masyarakat merasa kasus ini tidak dibuka secara terang-terangan gitu loh," kata Banyu kepada KBR68H ketika dihubungi.

Sebelumnya para terdakwa penembak 4 tahanan di Lapas Cebongan dikenai dakwaan pembunuhan berencana, penganiayaan, dan indisipliner. Jaksa Penuntut Umum (Oditur) Pengadilan Militer II – 11 Yogyakarta menjerat terdakwa dengan pasal berlapis dengan ancaman hukuman mati, seumur hidup atau paling lama 20 tahun penjara.

Dalam dakwaannya, tiga terdakwa Ucok Tigor Simbolon, Sugeng Sumaryanto, dan Kodik terbukti membunuh dan menganiaya 4 tahanan di Penjara Cebongan 23 Maret lalu.

Editor: Doddy Rosadi

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Pemerintah akan Evaluasi Peningkatan Serapan Anggaran

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17