Bagikan:

Antisipasi PMK, 2 Pasar Hewan di Rembang Ditutup

Dua pasar hewan itu sering didatangi para pedagang dari luar daerah.

NUSANTARA

Jumat, 27 Mei 2022 13:24 WIB

Author

Musyafa

Antisipasi PMK, 2 Pasar Hewan di Rembang Ditutup

Pasar Hewan Pamotan, Rembang, Jawa Tengah akan ditutup, karena imbas penyakit mulut dan kuku. Foto: KBR/Musyafa

KBR, Rembang- Pemerintah Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, akan menutup sementara dua lokasi pasar hewan. Penutupan dilakukan untuk mengantisipasi penyebaran penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan ternak.

Kepala Dinas Perdagangan Koperasi dan UMKM Kabupaten Rembang, M. Mahfudz mengatakan bakal mengevaluasi efektivitas kebijakan itu, apakah mampu menekan penyebaran PMK di sana.

"Untuk Pasar Hewan Kragan tiap Sabtu, tanggal 28 Mei dan 04 Juni, sedangkan Pasar Hewan Pamotan tiap hari Selasa, tanggal 31 Mei dan 07 Juni 2022. Kira-kira dua kali pasaran itu, kasus akan tetap meningkat atau menurun. Setelah evaluasi, akan ditentukan langkah selanjutnya," terang Mahfudz, Jum’at, (27/05).

Menurut Mahfudz, dua pasar hewan itu, terutama Pamotan, sering didatangi para pedagang dari luar daerah, seperti Jawa Barat maupun Jawa Timur.

"Mereka tidak hanya kulakan dari pasar situ, tetapi juga menjual ternaknya. Sehingga mobilitas ternak lintas provinsi ini cukup tinggi," bebernya.

Ia mengakui, penutupan pasar akan berdampak pada pemasukan retribusi daerah. Namun, kebijakan itu tetap harus dilakukan demi kepentingan lebih besar, yakni pencegahan penularan PMK pada hewan ternak.

"Tentu akan mengurangi retribusi, tapi kita lebih mengutamakan keselamatan hewan ternak kita," pungkasnya.

Tingkat Kesembuhan

Sementara itu, berdasarkan data Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Rembang, sudah ada 113 kasus penyakit mulut dan kuku di sana, dua di antaranya mati. Wabah PMK kini sudah menyebar di sembilan kecamatan di Rembang.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Rembang, Agus Iwan Haswanto mengatakan dari total kasus yang ada, tingkat kesembuhan sapi yang terkena PMK di kisaran 8 persen.

"Kami akan optimalkan peran peternak untuk bisa membantu penyembuhan, karena luka di kuku dan mulut perlu terapi harian, agar cepat pulih," ujarnya.

Selain itu, kata dia, petugas lapangan juga terus berupaya melakukan penanganan, dengan cara memberikan vitamin dan antibiotik.

"Untuk lukanya disemprot antibiotik luar. Beberapa sapi yang agak parah, akan ditambah injeksi analgesik dan antipiretik," tandas Agus.

Baca juga:

Editor: Sindu

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

RAPBN 2023, Penanganan Pandemi Tak Lagi Jadi Prioritas?

Most Popular / Trending