Seniman Banyuwangi: Lagu Genjer-Genjer Dilarang karena Diplesetkan

"Menghadapi tahun 1965 (lagu) itu diplesetkan jadi 'Jendral-jendral nang ibu kota pathing keleleran'," kata Seniman Banyuwangi Hasnan Singodimayan.

BERITA | NUSANTARA | NASIONAL

Kamis, 19 Mei 2016 14:40 WIB

Author

Hermawan Arifianto

Seniman Banyuwangi: Lagu Genjer-Genjer Dilarang karena Diplesetkan

Ilustrasi. (Foto: Creative Commons/KBR)

KBR, Banyuwangi - Lagu berjudul Genjer-genjer adalah lagu asli dari Banyuwangi, Jawa Timur. Gara-gara dicap sebagai lagu PKI, lagu ini masih dilarang diputar atau dinyakinan di berbagai tempat di Indonesia.

Seniman Banyuwangi Hasnan Singodimayan mengatakan sebenarnya lagu Genjer-genjer itu tidak ada kaitanya dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) pada tahun 1965. Hasnan mengatakan lagu Genjer-genjer merupakan lagu rakyat, yang mewakili gambaran nasib rakyat yang menderita saat itu.

Lagu Genjer-genjer, menurut Hasnan, berawal dari keprihatinan yang dialami masyarakat Indonesia karena penjajahan Pemerintah Jepang. Sistem penjajahan yang yang diterapkan Jepang membuat rakyat Indonesia  kesulitan dalam berbagai bidang.

Akibat kondisi ekonomi yang sulit, banyak warga yang kesulitan makanan hingga terpaksa makan genjer untuk sayuran. Genjer adalah nama tanaman semacam ganggang yang umumnya dianggap sebagai gulma yang tumbuh di rawa dan sawah.

Hasnan mengatakan, pada tahun 1965, lirik lagu itu diplesetkan hingga menyinggung tentara. Kalimat "Genjer-genjer nong kedokan pathing keleler" dalam lirik itu diganti "Jenderal-jenderal nang ibukota pathing keleler", sehingga kemudian diidentikkan dengan PKI.

Hasnan mengatakan sampai saat ini belum jelas siapa yang memplesetkan lirik lagu "Genjer-genjer" menjadi "Jenderal-jenderal".

"Pencipta lagunya Arif jadi anggota DPR wakil PKI, sekitar tahun 1949 sampai tahun 1950. Lagu Genjer-genjer yang merupakan lagu kampung, kemudian dinyayikan oleh orang-orang sampai ke Jakarta. Menghadapi tahun 1965 (lagu) itu diplesetkan jadi 'Jendral-jendral nang ibu kota pathing keleleran', ya marahlah para tentara," kata Hasnan Singodimayan, Kamis (19/5/2016).

Seniman Banyuwangi Hasnan Singodimayan menduga, lirik lagu genjer-genjer itu diplesetkan setelah pencipta  lagu itu yaitu Muhammad Arif diangkat menjadi anggoat DPR.

Pada waktu itu, lagu Genjer-genjer mendadak terkenal se antero Nuasantara. Bahkan lagu "Genjer-genjer" sempat dinyanyikan penyanyi terkenal kala itu, Lilis Suriani dan Bing Slamet.

Namun belakangan, pada tahun 1965 lagu "Genjer-genjer" berubah liriknya sehingga maknanya menjadi berbeda dengan  versi lainya.

Hasnan mengakui Muhammad Arif merupakan seniman yang bergabung dengan Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) yang berdiri dengan panji-panji PKI. Kata Hasnan,  kesenian yang lahir  dari Lekra  memang mengkritisi pemerintah  pada massa itu. Akan tetapi lagu "Genjer-genjer" murni lagu rakyat.

Editor: Agus Luqman 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Pemerintah akan Evaluasi Peningkatan Serapan Anggaran

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17