Jelang Ramadhan, Harga Sayur Anjlok

Komoditas yang harganya relatif stabil adalah beras dan daging

BERITA | NUSANTARA

Selasa, 24 Mei 2016 09:46 WIB

Author

Muhamad Ridlo Susanto

Jelang Ramadhan, Harga Sayur Anjlok

Pembeli sayur di Pasar Cinangsi, Cilacap. Foto: Ridlo Susanto

KBR, Cilacap – Dua pekan jelang Puasa, harga cabai dan beragam sayur di pasar tradisional Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah turun. Salah satu pedagang sayur Pasar Cinangsi, Sumarni mengatakan penurunan harga terjadi pada semua jenis cabai, mulai cabai merah, keriting, rawit, hingga cabai ijo. Selain itu, sejumlah komoditas sayuran yang turun antara lain tomat, welok, bayam, kangkung.

"Tomat sekarang turun, kalau sekarang belinya Rp 6000 per kilogram. Kalau lombok cengis (rawit) Rp 15 ribu per kilogram, kemarin-kemarin kan Rp 17 ribu sampai Rp 18 ribu. Lombok merah juga sedang turun, kalau belinya Rp 15 ribu sampai Rp 16 ribu. Kalau harga cabai hijau Rp 11 ribu per kilogram. Harganya naik turun, masih tidak pasti lah," ujarnya kepada KBR, Selasa, 24 Mei 2016.

Penurunan disebabkan berlimpahnya pasokan dari daerah penghasil sayur. Apalagi, sejak awal Mei lalu intensitas hujan begitu tinggi, sehingga banyak petani memilih cepat menjual hasil panen karena takut busuk. Sumarni menduga banyak petani musiman yang menyiapakan panen raya jelang puasa dan menjelang Ramadhan.  

Sedangkan harga sejumlah bahan pokok di pasar yang sama merangkak naik mulai pekan lalu. Pariah, pedagang sembako di Pasar Cinangsi mencatat kenaikan gula pasir dari Rp 14.500 per kilogram menjadi Rp 17 ribu. Begitu pula dengan gula jawa yang naik dari Rp 13.500 menjadi Rp 15.500-16 ribu per kilogram. Minyak curah juga naik dari Rp 12 ribu menjadi Rp 13 ribu per kilogram.

Komoditas yang harganya relatif stabil adalah beras dan daging. Beras kelas menengah dijual Rp 8000 per kilogram. Sedangkan daging ayam dihargai Rp 26 ribu per kilogram. Pariah menduga, beras dan  daging ayam akan naik tajam saat awal Puasa.


Editor: Damar Fery Ardiyan

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Akibat Pandemi, Angka Kehamilan dan Pernikahan di Jepang Turun

Survive Corona ala Gue

Bias Kognitif Dalam Masyarakat Saat Pandemi

Eps4. Berhitung Plastik pada Kopi Senja

Seribu Jalan Penolak Undang-undang Cipta Kerja