Bagikan:

Pendidikan Lalu Lintas Masuk Kurikulum Sekolah di Jateng

Pendidikan lalu lintas akan menjadi materi pelajaran sekolah di Program Wajib Belajar 9 tahun, dari tingkat sekolah dasar (SD) sampai sekolah menengah atas (SMA) di Jawa Tengah. Secara teknis materi berlalu lintas itu dimasukkan dalam mata pelajaran Pend

NUSANTARA

Rabu, 14 Mei 2014 10:43 WIB

Author

Nurul Iman

Pendidikan Lalu Lintas Masuk Kurikulum Sekolah di Jateng

Pendidikan Lalu Lintas, Kurikulum Sekolah, Jateng

KBR, Semarang – Pendidikan lalu lintas akan menjadi materi pelajaran sekolah di Program Wajib Belajar 9 tahun, dari tingkat sekolah dasar (SD) sampai sekolah menengah atas (SMA) di Jawa Tengah.  Secara teknis materi berlalu lintas itu dimasukkan dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKN).

Hal ini menyusul penandatanganan MoU tentang Pembinaan dan Fasilitas Kurikulum Pendidikan Berlalu Lintas di Jawa Tengah, antara Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Kapolda Jawa Tengah, Inspektur Jenderal Polisi Nur Ali, di Gedung Borobudur, Kompleks Mapolda Jawa Tengah, Selasa (13/5).

Ganjar mengatakan ide seperti ini merupakan terobosan luar biasa yang dilakukan kepolisian dan Pemda. “Saya sangat berterima kasih kepada kepolisian yang mau keluar dari sarangnya, masuk ke sekolah-sekolah,” katanya.

Ganjar mendukung penuh terobosan ini. Ia mengakui, pola berkendara usia muda terutama para pelajar cenderung tidak mematuhi rambu lalu lintas, juga mengesampingkan keselamatan.

“Saya sungguh ngeri melihat perilaku berkendara pelajar kita. Misalnya, tidak pakai helm berkendara motor di jalan raya. Kok kayaknya makin tidak pakai helm makin bangga, ditambah senang kebut-kebutan di jalan. Memang usia mereka proses pencarian diri yang belum selesai, dan di sinilah (kita) harus masuk. Agar mereka bisa tertib berlalu lintas,” lanjutnya.

Sementara, Kapolda Jawa Tengah, Inspektur Jenderal Polisi Nur Ali mengatakan, tingkat korban kecelakaan lalu lintas pada pelajar ataupun kalangan usia produktif cukup tinggi dalam kurun waktu 5 tahun terakhir.

“Dua puluh dua persen korban meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas didominasi siswa. Dan tiga puluh empat persen yang terlibat kecelakaan lalu lintas adalah usia produktif,” timpal Kapolda. (Baca: Korban Kecelakaan Lalulintas Butuh Rehabilitasi)

Direktur Lalu Lintas Polda Jawa Tengah, Kombes Pol Istu Hari Winarto menambahkan, sebelum masuk ke pelajaran PKN, pendidikan tentang berlalu lintas sudah beberapakali disampaikan ke sekolah-sekolah.

“Saya pernah jadi irup (inspektur upacara, red.) di sekolah, juga para kasat lantas juga jadi irup. Menyampaikan materi tentang pentingnya tertib berlalu lintas,” tambahnya.

Terobosan pendidikan berlalu lintas masuk ke pelajaran PKN, kata Istu, akan memberi banyak manfaat. Selain memberikan pengetahuan kepada siswa, juga akan menimbulkan kesadaran bahwa keselamatan lalu lintas itu merupakan kebutuhan.

Editor: Anto Sidharta

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Ketika Pimpinan KPK Tersandung Masalah Integritas

Most Popular / Trending