Pernikahan Dini Penyebab Angka Putus Sekolah di NTB Tinggi

Pemerintah provinsi (Pemprov) NTB terus memperbanyak gedung sekolah baru untuk meningkatkan angka partisipasi sekolah (APS).

NUSANTARA

Jumat, 03 Mei 2013 12:01 WIB

Pernikahan Dini Penyebab Angka Putus Sekolah di NTB Tinggi

putus sekolah, NTB, pernikahan

KBR68H, Mataram- Pemerintah provinsi (Pemprov) NTB terus memperbanyak gedung sekolah baru untuk meningkatkan angka partisipasi sekolah (APS). Akses pendidikan yang tidak terjangkau para siswa menjadi persoalan utama pendidikan NTB. Wakil Gubernur NTB, Badrul Munir, mengatakan mendekatkan sekolah dengan siswa maka tingkat partisipasi sekolah di NTB diclaim lebih baik daripada provinsi lain di Indonesia.

“Persoalan pendidikan kita kan masalah akses pendidikan. Jadi bagaimana agar seluruh warga masyarakat usia sekolah itu bisa terlayani dengan pendidikan. Nah itu dicirikan oleh angka partisipasi sekolah. Partisipasi sekolah kita lebih baik daripada provinsi-provinsi lain.Provinsi-provinsi di jawa lebih baik kita partisipasi sekolahnya,” kata Badrul Munir.

Badrul menambahkan alasan siswa putus sekolah di NTB tidak lagi karena kemiskinan dan jauhnya akses pendidikan. Tetapi lebih disebabkan faktor sosial dan budaya seperti menikah. Karena setiap siswa miskin di NTB telah dibiayai pemerintah melalui dana APBN dan APBD. Terdapat banyak program pembiayaan di sekolah dari pemerintah untuk siswa miskin, seperti Bantuan Operational Sekolah (BOS), Bantuan Siswa Miskin (BSM) dan lainnya.

Tahun lalu angka partisipasi sekolah di NTB mencapai 99 persen di semua jenjang pendidikan baik tingkat SD hingga SMA sederajat. Kebijakan pendidikan gratis diartikan sebagai penyediaan dana pendidikan bagi siswa dari keluarga miskin. Lebih dari Rp 200 miliar per tahun dana dari APBD NTB dibelanjakan untuk urusan pendidikan. Termasuk dan yang paling besar adalah untuk bantuan pendidikan bagi siswa dari keluarga miskin. Lebih dari 400.000 orang murid diberikan BSM ini setiap tahun.

Sumber: Radio Global FM Lombok

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Meningkat Netizen Pakai Petisi di Platform Digital