Bagikan:

PVMBG Antisipasi Bahaya Sekunder Gunung Anak Krakatau

Bahaya sekunder pernah terjadi pada 2018.

NUSANTARA

Selasa, 26 Apr 2022 00:12 WIB

PVMBG Antisipasi Bahaya Sekunder Gunung Anak Krakatau

Aktivitas Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda, Kamis (21/4/22). (Foto: magma.esdm.go.id)

KBR, Bandung- Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (Kementerian ESDM) mengantisipasi bahaya sekunder dari erupsi vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Upaya antisipasi itu dilakukan PVMBG Badan Geologi ESDM bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), dan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

Kepala PVMBG Badan Geologi KESDM Hendra Gunawan mengatakan bahaya sekunder pernah terjadi pada 2018.

"Terdapat bahaya potensi sekunder dari aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau ini adalah bahaya longsor dari tubuh Gunung Anak Krakatau seperti pada tahun 2018. Tapi, mengingat kondisi tubuh gunungnya masih kecil, potensi seperti ini kita harapkan masih kecil," ujar Hendra, Bandung, Senin, 25 April 2022.

Hendra mengatakan penelitian soal bahaya sekunder erupsi di tubuh Gunung Anak Krakatau melibatkan peneliti gerakan tanah.

Nantinya pengamatan secara kegunungapian akan digabungkan dengan potensi pergerakan tanah di tubuh gunung.

"Karena pengamatan gerakan tanah adalah menjadi tanggung jawab dari mitigasi Badan Geologi. Kemarin malam rapat evaluasi dengan Ibu Kepala BMKG membahas mitigasi dan menghadapi ancaman bahaya erupsi dari Gunung Anak Krakatau ini," kata Hendra.

Latihan Gabungan

Rencananya pada pekan ini akan dilakukan latihan gabungan bersama dengan skenario mitigasi lemparan material pijar vulkanik Gunung Anak Krakatau hingga gelombang tsunami.

Untuk bahaya sekunder gelombang tsunami, teknis pelaksanaannya dipegang BMKG.

"Latihan gabungan ini mudah-mudahan dapat bersinergi memberikan early warning. Di mana bencana yang dihadapi memang ada dua, primer dan sekunder," ucap Hendra.

Peningkatan pemantauan gunung api khususnya di Gunung Anak Krakatau, juga dilakukan dengan mempercanggih alat pemantau.

Selama periode 1-24 April 2022 dari arah Pos PGA Pasauran dan Kalianda serta dari CCTV yang dipasang di Pulau Sertung dan di Pulau Gunung Api, umumnya jelas hingga tertutup kabut.

"Saat cuaca cerah teramati hembusan asap kawah berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal, tinggi kolom embusan sekitar 25–3.000 meter dari atas puncak Gunung Anak Krakatau," jelas Hendra.

Teramati letusan dengan tinggi kolom 50-2.000 meter dari atas puncak. Kolom abu letusan berwarna putih, kelabu hingga kehitaman dengan dominan arah angin ke tenggara dan selatan.

Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau saat ini masih dalam periode erupsi menerus dengan perubahan erupsi.

"Semula dominan abu menerus menjadi tipe strombolian menghasilkan lontaran-lontaran lava pijar pada tanggal 17 April 2022," tukas Hendra.

Aktivitas Vulkanik Anak Krakatau

Pada Sabtu, 23 April 2022 sekitar pukul 12.19 WIB teramati lava mengalir dan masuk ke laut.

Untuk catatan kegempaan Gunung Anak Krakatau selama 1 - 24 April 2022 ditandai dengan terekamnya gempa-gempa vulkanik berupa gempa letusan, hembusan, tremor harmonik, low frequency, vulkanik dangkal, vulkanik dalam, dan tremor menerus.

"Terekam juga gempa tektonik dan tektonik lokal, dan salah satunya merupakan gempa terasa dengan skala I MMI," terang Hendra.

Hendra menuturkan energi aktivitas vulkanik yang dicerminkan dari nilai RSAM (real-time seismic amplitude measurement) menunjukkan pola fluktuasi dengan kecenderungan meningkat tajam sejak 15 April 2022.

Kejadian itu bersamaan dengan membesarnya amplitudo tremor menerus dan semakin intensnya kejadian erupsi yang menerus.

"Peningkatan ini diikuti pula dengan hasil pengukuran deformasi dengan menggunakan tiltmeter yang dipasang di Pulau Gunung api menunjukkan pola inflasi pada 18 April 2022 dan pola deflasi-inflasi yang intens sejak tanggal 22 April 2022," ungkap Hendra.

Baca juga:

Editor: Sindu

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Haruskah Ikut Program Pengungkapan Sukarela?