Bagikan:

Dishub Jateng Prediksi Puncak Mudik di H-3 Lebaran

"Arus puncak sesuai dengan survei H-3 menuju H-2 ketika Sabtu-Minggu. Harapannya nanti rekan-rekan sudah siap semua pada H-7.

NUSANTARA

Jumat, 08 Apr 2022 18:33 WIB

Author

Anindya Putri

Dishub Jateng Prediksi Puncak Mudik di H-3 Lebaran

Ilustrasi: Penyekatan larangan mudik di perbatasan Yogyakarta-Jateng, di Sleman, DI Yogyakarta, Selasa (28/4/2020). (Antara/Hendra Nurdiyansyah)

KBR, Semarang - Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Tengah memprediksi puncak mudik masyarakat akan terjadi pada H-3 Lebaran, atau 29 hingga 30 April 2022 mendatang

"Arus puncak sesuai dengan survei H-3 menuju H-2 ketika Sabtu-Minggu. Harapannya nanti rekan-rekan sudah siap semua pada H-7. Kita sudah mendirikan posko di kantor, posko terpadu dan di lapangan," ungkap Kepala Dinas Perhubungan Jateng, Henggar Budi di Semarang, Jumat (08/04/2022).

Henggar mengatakan, Dinas Perhubungan Jateng saat ini tengah berkoordinasi dengan Kepolisian dan TNI untuk menyiapkan personel yang bertugas bersiaga selama puncak mudik Lebaran.

Selain itu, lanjutnya, pengaturan rekayasa lalu lintas juga telah dirancang dengan matang khususnya melakukan one way (satu arah) dan contra flow (lawan arus) di arah barat Jawa Tengah.

"Akan dilakukan one way dan contra flow karena diprediksi akan datang dari Jakarta dan sekitarnya," jelasnya.

Berita lainnya:

Henggar menambahkan, Dinas Perhubungan Jateng juga akan memberlakukan larangan melintas di jalan tol bagi kendaraan berat pada H-2 Lebaran Larangan ini berlaku dari pukul 05.00-17.00 WIB.

"Untuk mengurangi kemacetan di jalan tol, akan ada larangan melintas kendaraan berat," imbuhnya.

Dari informasi yang dihimpun, diperkirakan sebanyak 21,3 Juta pemudik akan masuk Jawa Tengah pada puncak arus mudik Idul Fitri mendatang.


Editor: Kurniati Syahdan

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 8

Komunitas Biboki Lestarikan Tenun Ikat Tradisional

Living Law, Apa Dampaknya Jika Masuk dalam RKUHP?

Kabar Baru Jam 10