covid-19

Perajin Batik Masih Enggan Gunakan Pewarna Alami

Industri batik ternyata berdampak buruk pada lingkungan. Pasalnya, limbah dari industri bakti, terutama yang berasal dari proses pewarnaan batik yang masih menggunakan pewarna sintesis, sangat tidak ramah lingkungan. Jika limbah-limbah tersebut mengalir k

NUSANTARA

Rabu, 17 Apr 2013 17:54 WIB

Perajin Batik Masih Enggan Gunakan Pewarna Alami

batik, pencemaran lingkungan, pewarna alami

KBR68H, Yogyakarta - Industri batik ternyata berdampak buruk pada lingkungan. Pasalnya, limbah dari industri bakti, terutama yang berasal dari proses pewarnaan batik yang masih menggunakan pewarna sintesis, sangat tidak ramah lingkungan. Jika limbah-limbah tersebut mengalir ke dalam tanah, akan menyebabkan bakteri tanah tidak mampu berdegradasi sehingga menyebabkan rusaknya ekosistem tanah.

Selain itu, bahan-bahan yang bersifat karsinogenik pun jika masuk ke dalam tubuh bisa membahayakan kesehatan manusia. Disamping berbahaya bagi manusia, bahan pewarna naptol dan indigisol bisa mengakibatkan organisme dalam air akan mati.

Pengajar Jurusan Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada Edia Rahayuningsih mengatakan, meski bahan naptol telah dilarang digunakan sejak 1996, para perajin batik masih terus menggunakan pewarna tersebut lantaran murah, praktis, dan lebih cerah.

“Tapi, agar hasil pembuatan batik tidak terlalu mencemari lingkungan dan membahayakan manusia, bahan pewarna sintetis itu mestinya harus diganti dengan pewarna dari alam. Karena di Indonesia terdapat bahan pewarna alternatif yang lebih aman dan tahan lama berasal dari tanaman indigofera,” katanya.

Sebagai dosen dan peneliti, Edia Rahayuningsih sudah lama meneliti tanaman indigofera sebagai bahan pewarna pengganti naptol. Ia tahu sudah sejak lama tanaman indigofera terkenal sebagai pewarna indigo. Hasil penelitian yang ia lakukan menunjukkan marga indigofera bisa digunakan sebagai pengganti warna biru pada pewarna non-alami.

Kata Edia, warna biru dari serbuk yang dihasilkan memiliki kadar hingga 40 persen, sementara warna biru dari proses biasa kadarnya hanya 15 persen. Apabila untuk mendapatkan warna dengan kecerahan sama, pewarna indigofera dari proses tradisional memerlukan 30 sampai 40 kali pencelupan, dengan proses yang dikembangkan Edia, hanya memerlukan 3 sampai 6 kali pencelupan.

Meski telah mengajak perajin batik kembali menggunakan pewarna alami, Edia mengakui bila harga pewarna alami masih tergolong mahal dibanding pewarna sintetis. Karena rendemen daun indigofera terbilang kecil, dari 250 kilogram daun basah yang diproses, hanya diperoleh 1 kilogram serbuk warna atau 0,4 persen.

Sehingga, tidak heran apabila harga pewarna alami menjadi tinggi atau berkisar 750 ribu rupiah per kilogramnya. Keuntungan para perajin pun lebih sedikit jika harus menggunakan pewarna dari tanaman indigofera. Sebaliknya perajin akan mendapat untung banyak bila mereka menggunakan pewarna naptol yang harganya hanya sekitar 50 ribu rupiah per kilogram.

Dia berharap agar semakin banyak petani menanam indigofera guna menekan harga. Karena itu, ia ia tak henti-henti melakukan sosialisasi dimana-mana. Sebagai hasilnya, kini telah banyak petani di Kabupaten Bantul, Yogyakarta dan daerah lain bersedia menanam Indigofera karena mereka tahu besarnya keuntungan yang bisa diperoleh.

Sumber: radio Unisi Yogyakarta

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 8

Niatan Berantas Intoleransi di Lingkungan Pendidikan

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 11