Masak untuk 60 Anak, Cukup dengan Kotoran Sapi

Teknologi itu harus memudahkan manusia. Begitulah ungkapan pengasuh Panti Asuhan Al Hasan di Desa Watugaluh, Kecamatan Diwek, Jombang, Miftahul Hinan (42).

NUSANTARA

Senin, 08 Apr 2013 17:03 WIB

Author

Radio Swara Warga Jombang

Masak untuk 60 Anak, Cukup dengan Kotoran Sapi

kotoran sapi, biogas

KBR68H, Jombang – Teknologi itu harus memudahkan manusia. Begitulah ungkapan pengasuh Panti Asuhan Al Hasan di Desa Watugaluh, Kecamatan Diwek, Jombang, Miftahul Hinan (42).

Sejak tahun 2007, untuk memenuhi kebutuhan memasak bagi puluhan anak asuhnya, Miftahul Hinan memanfaatkan kotoran sapi yang diolah sebagai gas alami untuk bahan bakar memasak. Praktis, cara itu mampu menekan pengeluaran Panti Asuhan antara Rp. 2 juta hingga Rp. 3 juta setiap bulannya.

“Ide itu muncul tahun 2007, saya ketemu teman yang tahu bagaimana cara memanfaatkan kotoran ternak sebagai barang yang bermanfaat,” papar Hinan.

Ide tersebut dia tindaklanjuti dengan membuat septic tank mirip sumur, berbentuk lingkaran dengan diameter dan kedalaman lima meter. Septic tank diperkirakan mampu menampung 60.000 liter air/kotoran cair yang sekaligus menjadi ruang hampa udara penghasil gas alami.

Dari septic tank, lanjut Miftahul Hinan, disiapkan pipa untuk menyalurkan gas alami (bio gas) tersebut ke media untuk memasak atau media pembangkit tenaga listrik. “Ini berfungsi sebagai ruang hampa udara. Dari sini muncul gas alami yang bisa disalurkan menjadi energi yang disalurkan lewat pipa,” katanya.

Miftahul Hinan menjelaskan, dari ruang kedap udara, terkumpul biogas yang muncul dari proses fermentasi kotoran. Unsur utama dalam biogas itu meliputi gas metana (CH4) yang mudah terbakar sebanyak 55-75 persen, karbon dioksida (CO2) 25-45 persen, nitrogen (N2) 0,3 persen, hidrogen (H2) 1-5 persen, hidrogen sulfida (H2S) 0-3 persen, serta oksigen (O2) 0,1-0,5 persen.

Pada tahun 2007, dengan 25 ekor sapi yang dimilikinya, gas alami yang tersedia bisa digunakan untuk mengaliri listrik dengan genset khusus, energi untuk lampu petromax, serta kebutuhan memasak selama 24 jam untuk kebutuhan 40 – 45 orang.

Saat ini, dengan sapi yang dimiliki tinggal beberapa  ekor, gas alami yang dihasilkan dari tungku mirip sumur di tempatnya berkurang. Namun, itu sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan memasak bagi 60 anak yang tinggal di Panti Asuhan yang dia kelola.

Sumber: Radio Swara Warga Jombang

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Tak Berpihak Pada Nelayan, Pemerintah Didesak Revisi Perda Zonasi Wilayah Pesisir

Seleksi Capim KPK

Memulai Usaha dengan Modal Minim