Bagikan:

Mahasiswa UGM Kembangkan Teknologi Pemanen Kabut untuk Atasi Krisis Air

Kekeringan dalam jangka panjang memunculkan krisis air di berbagai daerah di Indonesia termasuk di daerah dataran tinggi.

NUSANTARA

Jumat, 12 Apr 2013 17:10 WIB

Mahasiswa UGM Kembangkan Teknologi Pemanen Kabut untuk Atasi Krisis Air

krisis air, teknologi pemanen kabut

KBR68H, Yogyakarta- Kekeringan dalam jangka panjang memunculkan krisis air di berbagai daerah di Indonesia termasuk di daerah dataran tinggi. Dari hasil penelitian yang pernah dilakukan Badan Geologi Jawa Tengah, untuk mengatasi kekeringan maka dibuatlah sumur artesis sedalam 200 meter. Sayangnya, penggalian pun tidak membuahkan hasil yang memadai sehingga masyarakat masih harus bersusah payah mendapatkan  air untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga maupun pertanian.

Sejumlah mahasiswa Program Studi Teknik Sipil dan Lingkungan Universitas Gadjah Mada yaitu Aditya Riski Taufani, Puji Utomo, Taufiq Ilham Maulana, dan Musofa kemudian tergerak untuk membantu mengatasi masalah krisis air yang melanda warga Dusun Ngoho, Desa Kemitir, Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah dengan menerapkan teknologi pemanen kabut.

Teknologi yang diterapkan dapat digunakan untuk menangkap dan mengumpulkan air dalam kabut sehingga bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Ketua Tim Pengembang Pemanen Kabut, Aditya menjelaskan bahwa lewat teknologi ini diharapkan dapat mengatasi kekeringan di musim kemarau yang terjadi di Dusun Ngoho.

Pengembangan teknologi pemanen kabut lahir dari Progam Kreatifitas Mahasiswa (PKM) bidang Penelitian 2013 yang didanai oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Di bawah bimbingan Prof. Dr. Ir. Fatchan Nurrochmad, M.Agr., mereka pun memulai mengembangkan teknologi pemanen kabut sejak bulan Februari lalu.

Sumber: Radio Unisi FM

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Jalan Buntu Penolakan Pemekaran Wilayah Papua