Bagikan:

Puncak Ritual Punggahan di Panembahan Banokeling

Ritual Punggahan dimulai dengan penyembelihan hewan yang dibawa oleh anak putu dari masing-masing wilayah, seperti kambing, sapi atau ayam..

NUSANTARA

Jumat, 25 Mar 2022 17:03 WIB

Komunitas Kejawen menggelar ritual Punggahan di Panembahan Banokeling, Pekuncen, Jatilawang, Banyuma

Ilustrasi: Komunitas Kejawen menggelar Ritual Punggahan di Panembahan Banokeling, Pekuncen, Jatilawang, Banyumas, menjelang Ramadan 2015. Foto-KBR-Muhamad Ridlo

KBR, Banyumas– Komunitas Kejawen di Panembahan Banokeling menggelar puncak Ritual Punggahan dengan penerapan protokol kesehatan (prokes) untuk pencegahan penularan COVID-19. Pasalnya, jumlah peserta tidak dibatasi seperti rencana sebelumnya.

Juru bicara Komunitas Adat Banokeling, Sumitro mengatakan Ritual Punggahan dimulai dengan penyembelihan hewan yang dibawa oleh anak putu dari masing-masing wilayah, seperti kambing, sapi atau ayam, pada Jumat, 25 Maret 2022.

Hewan ini kemudian dimasak bersama-sama, sebelum prosesi bekten atau ziarah di panembahan. Setelah bekten, anak putu akan mengikuti prosesi muji atau mendoakan leluhur dan setelahnya slametan atau makan bersama.

“Ya kalau di sini, termasuknya tidak ada apa-apa. Kita mengikuti aturan saja. Di desa-desa tidak ada bicara tentang korona. Di desa ya tetap aman. Tapi, karena aturan pemerintah belum diperbolehkan dilakukan secara bebas ya, kami berusaha melakukan aturan. Kalau persiapan ya, persiapan tamunya banyak, termasuk juga pelayannya. Termasuk perantauan juga pada pulang. Kan begitu,” kata Sumitro, Jumat (25/3).

Baca juga:

Sumitro mengatakan tahun ini jumlah pelayan lebih banyak karena tamu yang datang juga lebih banyak dibanding tahun sebelumnya. Dalam pelaksanaannya, komunitas adat mengimbau setiap peserta taat protokol kesehatan. Di antaranya, berusaha tidak berkerumun dan mengenakan masker.

Ritual Punggahan jelang Ramadan tahun ini diikuti seribuan anak putu dari berbagai daerah. Mereka merupakan keturunan Kiai Banokeling, dan disebut anak putu. Peserta terbanyak berasal dari Banyumas dan Cilacap. Dari Cilacap, secara rutin sejumlah kelompok mengikuti ritual ini. Di antaranya, Anak Putu Kalikudi, Adiraja, Daun Lumbung, dan Pekuncen Kroya.

Editor: Sindu

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Pengungsi dan Persoalan Regulasi di Indonesia