Komisi Ombudsman Jateng Temukan 800 Data Guru Dipalsukan

KBR 68H, Kudus - Komisi Ombudsman Jawa Tengah menemukan dugaan pemalsuan ratusan data guru honorer di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.

NUSANTARA

Rabu, 26 Mar 2014 18:24 WIB

Author

Ahmad Rodli

Komisi Ombudsman Jateng Temukan 800 Data Guru Dipalsukan

ombudsman, honorer, guru

KBR 68H, Kudus - Komisi Ombudsman Jawa Tengah menemukan dugaan pemalsuan ratusan data guru honorer di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.

Kepala Perwakilan Ombudsman RI Provinsi Jateng, Achmad Zaid menyatakan bahwa dugaan pemalsuan didapatkan setelah Komisi Ombudsman melakukan klarifikasi dengan sejumlah pihak. Hasilnya, tim Ombudsman menemukan bahwa di Kabupaten Jepara terdapat sekitar 900 guru honorer kategori II yang memenuhi syarat untuk mengikuti CPNS 2013 lalu.

Namun ternyata yang mengikuti tes mencapai 1700 orang. Sehingga ada sekitar 800 data yang diduga dipalsukan. Pemalsuan ini dilakukan agar para guru bisa mengikuti tes Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS).

“Dugaan sementara yang melakukan adalah guru yang bersangkutan dan kepala sekolah. Memang setelah saya melakukan klarifikasi, mereka mengatakan jika ada data yang tercecer, tapi kalau jumlah yang tercecer sampai ratusan, apakah ini sesuatu yang logis?.”

Selain Jepara, persoalan dugaan pemalsuan data guru honorer juga terjadi di Kudus, Jawa Tengah.

Permasalahan tenaga honorer kategori II di Kabupaten Kudus mulai mengemuka ketika tercium indikasi manipulasi data tenaga honorer, menyusul banyaknya pegawai yang ikut dalam proses tes seleksi CPNS. Pemerintah kabupaten Kudus melakukan tes CPNS tanpa melalui uji publik. Padahal pemilihan harus melalui uji publik dan terbuka. Akibatnya banyak guru honorer yang gagal dalam tes CPNS. Para guru ini sebelumnya sudah menjadi guru honorer lebih dari 10 tahun.

Para guru kemudian mengadukan kasusnya ke Komnas HAM pada Rabu (12/3) menyusul ancaman yang mereka terima pasca melakukan aksi memprotes kecurangan pengangkatan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS).

"Beberapa guru diancam akan dicoret dari daftar tenaga honorer jika terus ikut berdemo," kata juru bicara guru honorer, Sururi Mujib.



Editor: Luviana

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Persiapan Pemerintah Jawa Barat Hadapi New Normal

Kabar Berita Jam 15