Radio Nina Bayan, Inovasi Perempuan Lombok Utara di Tengah Pandemi

Radio bisa jadi kanal edukasi yang berkelanjutan

Penyiar Radio Nina Bayan berbincang dengan narasumber. Radio ini menjadi kanal informasi Covid-19 dan edukasi soal isu perempuan. (Foto:dok Radio Nina Bayan)

Kamis, 03 Februari 2022

Deskripsi:

Pandemi memberi banyak tantangan pada kerja-kerja pemberdayaan perempuan akar rumput. Namun, ada tantangan yang berhasil dimitigasi lewat inovasi. Salah satunya dilakukan komunitas Sekolah Perempuan di Kecamatan Bayan, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat. Mereka mendirikan dan mengelola Radio Suara Bayan, sebagai wadah informasi dan edukasi seputar Covid-19. Kanal baru ini juga dimanfaatkan untuk melanjutkan kampanye terkait isu-isu perempuan seperti pencegahan kekerasan dan perkawinan anak. Simak laporan khas KBR yang dibacakan Astri Yuana Sari.

-
Klik di sini untuk kisah-kisah menarik lainnya

KBR, Jakarta - Pagi itu, Sri Budi Utami menyapa pendengar Radio Nina Bayan, yang berada di Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat. Tami membawakan acara bincang-bincang seputar Covid-19.

"Di awal-awal, (warga) nggak percaya kalau (Covid) bakal sampai sini. Ga mungkin, jauh di Wuhan sana. Awalnya mereka tidak percaya vaksin. Jadi setelah mendengar (radio), respon mereka, 'oh iya baik, kami coba akan ikut vaksin," kata Tami saat dihubungi lewat telepon.

Radio Sekolah Perempuan Darurat Siaga Covid-19, demikian nama lengkapnya. Radio ini diinisiasi LSM Kapal Perempuan bersama organisasi lokal Lembaga Pengembangan Sumber Daya Mitra (LPSDM) pada Januari 2021 lalu.

Pendiri Radio Nina Bayan Ririn Hayudiani mengatakan, media radio dipilih karena efektif menjangkau warga se-kecamatan.

"Radio itu paling mudah digunakan, mau dibawa ke mana saja, tidak tergantung pada kuota internet dsb. Pemancarnya kan menggunakan gelombang. Misalnya yang di (Kecamatan) Bayan, ibu-ibu Sekolah Perempuan kan kebanyakan buruh tani. Jadi dia bisa bawa radio itu ke tengah sawah itu masih ketangkep," ujar Ririn yang juga menjabat Wakil Direktur LPSDM.

"Pembelajaran jarak jauh di salah satu di ujung dusun, mereka mendengarkan melalui radio. Juga bisa didengarkan rekaman ulang dan diputar lewat toa-toa. Sehingga masyarakat yang ga punya radio itu bisa mendengarkan siaran kami,” imbuh Ririn.

Radio ini dikelola para puan kader komunitas Sekolah Perempuan. Sebanyak 15 orang dilatih menjadi penyiar yang bekerja berdasarkan sif. (Foto:dok Radio Nina Bayan).

Ririn menjelaskan alasan di balik pemilihan nama Nina Bayan.

"Nina itu kan perempuan artinya. Jadi selain menunjukkan identitas dari pengorganisasian yang sudah kami lakukan melalui Sekolah Perempuan. Kami juga pengin menunjukkan bahwa 'oh iya Nina Bayan berarti ini di Lombok Utara'. Bayan itu hanya ada di Kabupaten Lombok Utara," terangnya.

Radio dikelola para puan Kecamatan Bayan yang tergabung dalam Sekolah Perempuan. Komunitas ini dirintis Kapal Perempuan sejak 2014 silam. Anggotanya merupakan perempuan-perempuan dari kelompok rentan.

"Misalnya mereka yang miskin, tidak tamat pendidikan dasar, berperan sebagai kepala keluarga, penyintas kekerasan seksual, penyintas kekerasan dalam rumah tangga, hingga penyintas perkawinan anak. Mereka difasilitasi dengan pendidikan kritis dan pemberdayaan," tutur Ririn.

Di masa pandemi, mereka mendapatkan kesempatan berkontribusi dalam upaya penanganan Covid-19 dengan mengelola radio komunitas.

Keberadaan radio ini diapresiasi Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Bintang Puspayoga, dengan meresmikannya secara langsung April 2021 lalu.

Baca juga: Inisiatif Berbagi Konten Pembelajaran Gratis

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Bintang Puspayoga saat meresmikan Radio Nina Bayan, April 2021. (Foto:dok Kapal Perempuan).

Selama setahun terakhir, sebanyak 15 anggota Sekolah Perempuan menjadi penyiar sekaligus produsernya. Tami mengisahkan momen pelatihan yang dijalani sebagai calon penyiar.

"Kita baru pertama kali jadi penyiar, ga pernah kebayang akan mengelola sebuah radio. Training itu ya lucu aja sih, kita bakal ngomong sendiri tanpa ada orang di sekitar kita. Jadi kami diberi penguatan kapasitas tentang cara penyiaran yang baik. Misal dengan menggunakan skrip terlebih dahulu, yang jadi acuan kita siaran," ujar Tami.

"Persiapan mulai Oktober 2020, kami sudah melakukan pelatihan. Kalau tidak salah antara Oktober dan Desember, kami sudah mulai belajar siaran pakai podcast," imbuh warga Sambik Elen ini.

Ke-15 penyiar dibagi dalam dua kelompok sif. Yang mereka produksi tak cuma informasi Covid. Ada juga program Gundam Batur Nina yang membahas isu-isu perempuan, Dunia Remaja yang bisa jadi sarana edukasi pencegahan perkawinan anak, serta program pemberdayaan ekonomi.

Baca juga: Bagirata, Solidaritas bagi Pekerja Terdampak Pandemi

Tangkapan layar Radio Nina Bayan di Spotify

Tami sering kebagian menjadi penyiar di program Ngopi Pagi dan Gundam Batur Nina. Ia harus menempuh 15 kilometer perjalanan dengan sepeda motor, selama 20 menit ke kantor radio yang berada di Desa Sukadana.

"Kita siaran dari Senin - Sabtu, pukul 9 pagi sampai 15. Kebutuhan masyarakat sebetulnya kita siaran malam. Tapi karena kami belum siap, rumahnya penyiarnya jauh, ada yang dari Desa Bayan, Desa Anyar, karena kami ambil dari berbagai unsur. Ada yang unsur guru, dari Sekolah Perempuan, ada yang remaja dan komunitas Hindu," tutur perempuan 32 tahun ini.

Mereka memadukan bahasa lokal dan bahasa Indonesia ketika siaran, sesuai kebutuhan.

"Di awal-awal kami tujukan radio ini hanya didengar masyarakat Sukadana dan Bayan. Tapi ternyata radio ini bisa didengarkan oleh 9 desa. Jadi mereka, perempuan dan anak, minim sekali pengetahuannya. Jadi hal yang baru yang mereka dengar melalui radio itu tentang isu-isu perempuan dan anak," kata Tami.

Baca juga: Insani Teater Cilincing, dari Gang Sempit Kalibaru Tolak Kawin Anak

Radio Nina Bayan juga membuka kanal pengaduan kasus-kasus perkawinan anak, kekerasan seksual dan kekerasan dalam rumah tangga. (Foto:dok Radio Nina Bayan).

Selain soal Covid-19, topik seputar isu perempuan juga mendapat perhatian dari pendengar. Radio menjadi kanal baru pencegahan kekerasan dan perkawinan anak.

“Pendengar langsung menelpon 'oh ternyata perkawinan anak masalah ya?' 'Ini di desaku ada, bisa ga didampingi?' Radio ini menjadi wadah pendampingan kasus juga. Ketika ada yang melapor kasus perkawinan, akan kami teruskan ke pos pengaduan perempuan yang memang sudah bergerak jauh sebelum terbentuknya radio," kisah Tami.

"Dari kasus ini, dengan proses diskusi bersama kepala dusun, pada akhirnya perkawinan ini digagalkan. Tapi identitas baik korban pelaku kami tetap privasikan,” tutur dia.

Tami berharap kiprah Radio Nina Bayan tetap berlanjut. Mereka terus berbenah dengan meningkatkan kapasitas, memperbaiki infrastruktur hingga mengurus perizinan sebagai radio komunitas.

"Jika Covid ini sudah ga ada, maka radio harus tetap mengudara. Yang kami lakukan adalah advokasi dengan berbagai pihak, kepala desa, pemerintah daerah, Kominfo wakil Bupati, bagaimana radio ini tetap berlanjut,” pungkas Tami.