Bagikan:

Ditargetkan Tanam Kedelai 50 Ribu Hektare, Distan NTB: Tanpa Bantuan Benih dan Pestisida

"kita ditargetkan di NTB itu sebanyak 50 ribu hektare dan dengan bantuan KUR (Kredit Usaha Rakyat). Tidak ada bantuan benih, tidak ada bantuan pestisida,"

NUSANTARA

Rabu, 23 Feb 2022 16:30 WIB

Ditargetkan Tanam Kedelai 50 Ribu Hektare, Distan NTB: Tanpa Bantuan Benih dan Pestisida

Perajin tempe saat aksi unjuk rasa di kawasan Sentra Produksi Tempe di Depok, Jawa Barat, Senin (21/2/2022). (Foto: Antara/Asprilia Dwi Adha)

KBR, Mataram - Pemerintah Pusat melalui Kementerian Pertanian menggalakkan penanaman kedelai di sejumlah provinsi di Indonesia, salah satunya Nusa Tenggara Barat (NTB).

Menurut Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB, Muhammad Riadi, penanaman kedelai di NTB ditargetkan seluas 50 ribu hektare.

Ia mengatakan, penanaman kedelai ini menjadi solusi mengatasi naiknya harga kedelai.

"Lewat pertemuan webinarkita ditargetkan di NTB itu sebanyak 50 ribu hektare dan dengan bantuan KUR (Kredit Usaha Rakyat). Tidak ada bantuan benih, tidak ada bantuan pestisida," katanya di Mataram, Rabu (23/2/2022).

Baca: Mogok Bikin Tahu Tempe karena Kedelai

Secara nasional, lanjut Riadi, Kementerian Pertanian menargetkan tanam kedelai seluas 600 ribu hektare di 14 provinsi di Indonesia, untuk memenuhi kebutuhan kedelai di dalam negeri.

Saat ini harga kedelai di NTB sekitar Rp1,3 juta per kuintal, dari sebelumya hanya Rp800-Rp900 ribu per kuintal.

Baca juga: Harga Kedelai Naik, Kemendag Akui Tidak Bisa Berbuat Banyak

"Banyak pengrajin tahu tempe di NTB yang mengeluhkan harga kedelai tersebut karena sangat berimbas pada penghasilan mereka," jelas dia.

Salah satu cara yang dilakukan agar tetap untung adalah dengan memperkecil ukuran tahu tempe yang dijual ke konsumen, pungkas Muhammad Riadi.

Editor: Kurniati Syahdan

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Kabar Baru Jam 7

Tergoda Perpanjangan Masa Jabatan Kepala Desa

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 11

Most Popular / Trending