BPS: Produksi Freeport Menurun, Ekonomi Papua Merosot

"Tiap triwulan kemarin selama 2019, perekonomian di Papua selalu mengalami kontraksi. Dan itu sebetulnya terjadi sejak triwulan ketiga 2018. Penyebab utamanya adalah Freeport."

BERITA | NASIONAL | NUSANTARA

Kamis, 06 Feb 2020 11:33 WIB

Author

Wahyu Setiawan

BPS: Produksi Freeport Menurun, Ekonomi Papua Merosot

Tambang Freeport, Papua. (Foto: ANTARA)

KBR, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS)  merilis data pertumbuhan perekonomian Papua untuk periode tahun 2019. Kepala BPS Suhariyanto mengatakan selama 2019 ekonomi Papua tumbuh negatif atau mengalami kontraksi sebesar -15,72 persen. 

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Papua hanya mencapai angka 6,2 persen, merosot jauh dari kuartal sebelumnya yakni 23,89 persen year on year 

"Ekonomi Papua itu mengalami pertumbuhan negatif. Cuma kalau kita lihat, sebetulnya tiap triwulan kemarin selama 2019, perekonomian di Papua selalu mengalami kontraksi. Dan itu sebetulnya terjadi sejak triwulan ketiga 2018. Penyebab utamanya adalah Freeport," ungkap Suhariyanto dalam jumpa pers di Gedung BPS, Jakarta, Rabu (5/2/2020).

Menurut Suhariyanto, merosotnya perekonomian Papua terjadi karena penurunan produksi PT Freeport Indonesia, yang terkait dengan peralihan sistem tambang di sana. 

"Itu yang menyebabkan Papua mengalami kontraksi yang cukup dalam," tambahnya.

Namun, Suhariyanto enggan menanggapi pertanyaan wartawan apakah penurunan perekonomian Papua belakangan ini terkait dengan konflik yang marak terjadi di Bumi Cendrawasih.

Secara umum, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2019 sebesar 5,02 persen, turun dari tahun sebelumnya yang mencapai 5,17 persen.

Secara spasial, Papua bersama Maluku tercatat sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi paling rendah yaitu -7,40% year on year.

Editor: Rony Sitanggang

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Pertumbuhan Ekonomi Minus, Pemerintah Gagal Manfaatkan Peluang?

Kabar Baru Jam 15

Mengulik Uji Coba Vaksin Covid-19