Kasus TransJakarta Karatan, Kadishub Jakarta: Saya Merasa Ditipu

KBR68H, Jakarta - Hidung Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Udar Pristono ditunjuk oleh semua pihak. Dia dituduh sebagai orang yang bertanggungjawab dengan kasus impor bus karatan TransJakarta asal Cina.

NUSANTARA

Selasa, 11 Feb 2014 17:58 WIB

Author

Pebriansyah Ariefana

Kasus TransJakarta Karatan, Kadishub Jakarta: Saya Merasa Ditipu

TransJakarta, lowongan kerja, sopir

KBR68H, Jakarta - Hidung Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Udar Pristono ditunjuk oleh semua pihak. Dia dituduh sebagai orang yang bertanggungjawab dengan kasus impor bus karatan TransJakarta asal Cina.


Dalam sebuah wawancara khusus di Program Sarapan Pagi KBR68H Jakarta, Selasa (11/2) pagi, Pristono mengaku ditipu dan dibohongi oleh vendor bus. Sebab bus yang sedianya baru, ternyata banyak yang karatan.


Berikut petikan wawancara dengan penyiar KBR68H Agus Luqman dan Rumondang Nainggolan kepada Pristono:


Sudah ada pemeriksaan soal bus-bus yang kabarnya rusak?

Sudah ada pemeriksaan bus-bus itu. Jadi saya sampaikan juga, bahwa untuk bus itu nanti diaudit ada karat, misalnya kami melihat sendiri. Nanti diaudit apakah dari pabriknya atau selama perjalanan, nanti kelihatan. Kami ini pihak yang dirugikan, kita sebagai pembeli ingin clear kepada orang yang menjual itu. 


Oleh sebab itu tidak usah khawatir, kebetulan barang-barang yang kita beli ini belum dibayar full baru 20 persen uang mukanya. Jadi kita masih bisa mengamankan anggaran kita. Kalau memang mereka tidak sesuai spesifikasi ya tidak kita bayar. Bahwa pengadaan bus ini ada 14 paket, jangan digeneralisir. Ini yang masalah ada satu paket, satu paket ini satu perusahaan dan juga tidak semua mobil. 


Jadi ada juga yang berhasil dengan baik, dari 656 itu ada yang berkarat memang di media itu diulang-ulang terus itu. Yang berkarat itu juga tidak seluruhnya, dalam satu komponen mesin itu ada tetapi sebagian mobil. Contoh ada satu kapal yang membawa 1 Bus TransJakarta gandeng, itu yang bermasalah ada 5 bus berkarat. 


Kami pembeli dirugikan ya kita klaim, kebetulan belum dibayar jadi tidak usah khawatir. Misalnya yang bermasalah itu dipisah, tapi dilihat misalnya karat ini disengaja dari pabriknya barang bekas atau karat karena kena cuaca buruk nanti ada ahli yang menentukan itu. 


Biasanya kalau misalnya datang dari kapal apakah tidak ada yang memeriksa bahwa barang tersebut bagus pada saat tiba di Jakarta? 

Itu kewajiban memeriksa itu dari si pemasok seperti ATPM, vendor. Kami pembeli, kalau misalnya barang tidak sesuai spesifikasi dan kontrak saya kembalikan saya tidak akan bayar. Kontrak kita sudah mengamankan tapi masalah tadi jelas kita kelompokkan, jangan digeneralisir. Jadi memang dalam satu paket ada satu perusahaan dan dalam satu perusahaan itu ada 18 mobil. 


Anda merasa dirugikan atau merasa dipojokkan dengan kasus ini?

Saya merasa dirugikan menerima barang seperti itu karena kami juga harus klaim kepada mereka. Itu nanti diaudit silahkan, karat itu permukaannya saja atau dalamnya sampai berkarat. Karat itu bisa ditinjau dari sananya karat atau kena cuaca buruk. Pemasok ini perusahaan besar BUMN Cina, sehingga mereka saya kira akan bertanggung jawab. Kami tetap bertanggungjawab menyelesaikan ini tetapi dari sisi pembayaran ini masih kita pegang, belum kita bayar kok itu. 


Kalau ada semacam kesengajaan atau kelalaian ini merasa ditipu atau tidak?

Ya jelas merasa. Saya pembeli ingin barang ini, sekarang kalau Anda beli sesuatu tidak mau barang yang tidak sesuai kontrak. 


Editor: Pebriansyah Ariefana

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

RS di Jalur Gaza Kewalahan Tampung Pasien Covid-19

Kabar Baru Jam 7

Kisah Pendamping Program Keluarga Harapan Edukasi Warga Cegah Stunting

Siapkah Sekolah Kembali Tatap Muka?

Eps8. Food Waste