Dihalangi Menikah dengan Kakek 50 Tahun, Anak Jalanan ini Kabur

KBR68H, Malang - Seorang anak jalanan berusia 11 tahun lari dari tempat penampungan karena menolak membatalkan pernikahannya dengan kakek yang berusia 50 tahun. Dia mengaku tetap ingin menikah dengan si kakek itu.

NUSANTARA

Kamis, 06 Feb 2014 19:15 WIB

Author

Pebriansyah Ariefana

Dihalangi Menikah dengan Kakek 50 Tahun, Anak Jalanan ini Kabur

anak jalanan, nikah massal, malang

KBR68H, Malang - Seorang anak jalanan berusia 11 tahun lari dari tempat penampungan karena menolak membatalkan pernikahannya dengan kakek yang berusia 50 tahun. Dia mengaku tetap ingin menikah dengan si kakek itu.

Kisah yang terjadi di Malang, Jawa Timur ini dialami perempuan bernama Mawar, sebut saja begitu, yang tengah hamil tua akibat kiekerasan seksual di jalanan. Begitu tahu dirinya hamil, Mawar langsung masuk ke tempat penampungan milik LSM perlindungan anak jalanan Jaringan Kemanusiaan Jawa Timur (JKJT).

Setelah hamil beberapa bulan Mawar bertemu seorang kakek pemulung. Sang kakek mengaku bersedia bertanggung jawab dan menafkahi Mawar dan anak yang dikandungnya.

Mawar lantas mendatangi Koordinator JKJT Tedja Bawana dan menyatakan ingin menikah dengan si kakek. Kebetulan JKJT akan menggelar pernikahan massal bagi pasangan tidak mampu pada 21 Februari mendatang. Tedja mengaku kaget mendengar keinginan Mawar.

"Saat itu saya bilang, lho kamu ingin menikah sama kakek ini? Bagaimana sama nasib kamu nanti? Kamu di paksa? Dia bilang tidak. Mereka suka sama suka," cerita Tedja saat dihubungi KBR68H Jakarta, Kamis (6/2).

Tedja berusaha membatalkan pernikahan Mawar dengan si kakek karena terbersit rasa curiga. Tapi reaksi Tedja justru membuat Mawar kabur. Sampai saat ini, belum diketahui di mana Mawar berada.

Tedja mengaku ragu dengan keinginan Mawar. Dia curiga, ada paksaan di baliknya. Namun berulang kali Mawar mengaku tidak ada paksaan untuk menikah dengan kakek itu.

"Dia kabur. Dia berulang kali bilang suka sama suka. Karena si kakek ini menawarkan kehidupan. Si kakek menerima apa adanya dan akan merawat anak perempuan itu," jelas Tedja.

Pernikahan massal

Setiap tahun Jaringan Kemanusiaan Jawa Timur (JKJT) rutin menggelar pernikahan massal bagi pasangan yang tidak mampu. JKJT sudah tiga kali melangsungkan pernikahan massal. Kegiatan ini dilangsungkan JKJT karena melihat banyaknya pasangan kurang mampu yang sudah menikah secara agama, tapi tak punya surat-surat resmi.

Tahun ini, pernikahan massal kali ini akan berlangsung pada 21 Februari 2014 mendatang. Ada 250 pasangan yang akan dinikahkan, termasuk belasan anak di bawah umur. Anak-anak di bawah umur ini adalah anak jalanan yang mengalami kekerasan seksual lantas hamil dan diusir oleh keluarga mereka. Salah satunya adalah Mawar yang datang dengan keinginan untuk menikah dengan kakek berusia 50 tahun.

"Mereka kumpul kebo. Ada 3 anak yang tinggal sama pria yang lebih tua 10 tahun. Ada juga yang masih berseragam sekolah, mereka ingin menikah karena memang sudah terlanjur hamil," jelas Tedja dari JKJT.

Setelah hamil, mereka ditinggal kabur oleh pasangannya. Alhasil anak yang hamil di luar ikatan pernikahan ini tidak punya akte kelahiran dan tak punya status yang jelas. Belasan anak jalanan ini akan dinikahkan dengan pasangan mereka yang baru. "Tanpa paksaan," kata Tedja.

Tedja mengaku pernikahan ini mesti dilakukan secara hati-hati karena banyak yang masih mengalami trauma psikis pasca kekerasan seksual yang dialami.

"Banyak pria yang memang tulus ingin menikahi mereka dalam keadaan hamil. Ada (perempuan) yang sudah punya, dan anak itu ditinggal sama bapaknya. Kemudian ada lelaki yang ingin menikahinya," papar Tedja.

Setelah menikah nanti, semua pasangan akan menerima bantuan dana sebesar Rp 1-2 juta sebagai modal usaha. Tedja mengatakan masih terus mencari Mawar yang kabur. Ia ingin membicarakan rencana Mawar untuk menikah dengan kakek berusia 50 tahun itu.


"Jangan sampai hidupnya nanti tidak jelas dengan si kakek," kata Tedja.


Editor: Citra Dyah Prastuti

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

What's Up Indonesia

Kabar Baru Jam 8

Penyalahgunaan Narkoba di kalangan Pelajar dan Mahasiswa Meningkat, Penerapan Regulasi Tidak Tepat Sasaran

Kabar Baru Jam 7

News Beat