Ahok Minta Pasar Jaya Putus Hubungan dengan Swasta

PD Pasar Jaya, sebagai pengelola pasar tradisional di Jakarta, diminta memutuskan hubungannya dengan pihak swasta. Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahja Purnama (Ahok) mengatakan, perintah itu sudah disampaikan kemarin saat bertemu muka dengan pihak P

NUSANTARA

Selasa, 11 Feb 2014 07:31 WIB

Author

Aisyah Khairunnisa

Ahok Minta Pasar Jaya Putus Hubungan dengan Swasta

ahok, pasar tradisional, swasta

KBR68H, Jakarta - PD Pasar Jaya, sebagai pengelola pasar tradisional di Jakarta, diminta memutuskan hubungannya dengan pihak swasta. Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahja Purnama (Ahok) mengatakan, perintah itu sudah disampaikan kemarin saat bertemu muka dengan pihak PD Pasar Jaya. 


Ahok meminta pengelolaan pasar sepenuhnya dipegang oleh pemilik pasar. Ahok juga berharap DPRD DKI setuju untuk memberikan modal supaya PD Pasar Jaya bisa mandiri.


"Kita mau betul-betul PD Pasar Jaya itu berubah orientasi bisnisnya. Kita tidak mau lagi kerja sama dengan swasta lahan yang ada. Jadi konsep pasarnya harus diubah. Nah, ini kan satu bentuk yang harus kita bagusin pasar kita, jadi gak mungkin kalah bersaing. Nah, ini harusnya itu fungsi PD Pasar Jaya menyiapkan itu. Bukan pasar dibiarin jelek, nanti alasan nggak ada duit karena kerja sama dengan swasta, lalu orang yang dagang tersingkir, bayar 20 tahun di muka, itu kan konyol. Nah, itu yang mau pak Gubernur ubah kan di situ," kata Ahok. 


Ahok menambahkan, daya tarik pasar tradisional masih unggul dibanding supermarket. Ia merujuk pada data yang ia pegang bahwa orang Jakarta dalam sebulan datang ke pasar tradisional sekitar 14 sampai 18 kali. Sedangkan ke supermarket hanya dua kali dalam sebulan. 


Hal ini yang menyebabkan Pemprov DKI ingin mengubah wajah pasar tradisional agar semakin diminati warga. Hingga kini, di Jakarta ada 153 pasar tradisional. 


Editor: Antonius Eko 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

DPR Desak Menteri BUMN Evaluasi Total BUMN

Perempuan dan Anak Dalam Pusaran Terorisme