Tidak Semua Orang Boleh Menggali Situs Purbakala

Tidak sembarang orang diperkenankan melakukan ekskavasi (penggalian) situs purbakala.

NUSANTARA

Selasa, 19 Feb 2013 12:05 WIB

Author

Aris Santoso

Tidak Semua Orang Boleh Menggali Situs Purbakala

situs purbakala

Tidak sembarang orang diperkenankan melakukan ekskavasi (penggalian) situs purbakala. Hal itu disampaikan Candrian Attahiyyat, arkeolog lulusan Universitas Indonesia, terkait penggalian situs (yang dianggap) purbakala, di lokasi Pasar Legi Parakan, Temanggung, Jateng. Penggalian dilakukan oleh organisasi pemuda setempat yang menamakan dirinya Paguyuban Cah Parakan.

Candrian melanjutkan, penggalian situs purbakala harus dilakukan oleh pihak atau lembaga yang kompeten di bidangnya, seperti Balai Arkeologi (tingkat provinsi) atau Puslitarkenas (Pusat Penelitian Arkeologi Nasional). “Kalau sembarangan orang melakukan penggalian, dikhawatirkan akan merusak situs. Penggalian harus dipimpin seorang arkeolog, sementara warga atau pemuda setempat bila ingin terlibat, hanya diposisikan sebagai relawan,” ujar Candrian yang kini berdinas di kawasan Kota Tua Jakarta.

Sebagaimana diberitakan, dalam seminggu terakhir ini sejumlah pemuda dan warga, yang mengaku sebagai pecinta sejarah Parakan, melakukan penggalian di tengah Pasar Legi, yang kebetulan memang sedang direnovasi. Koordinator penggalian Titis Wibowo, saat dihubungi PortalKBR,  mengaku, penggalian sudah dikoordinasikan dengan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah dan Pemkab Temanggung, namun memang tidak ada arkeolog yang mendampingi.

Titis melanjutkan, Pasar Legi Parakan perlu digali, karena menurut sejarah, di lokasi tersebut diperkirakan pusat pemerintahan Kadipaten Menoreh, di bawah Karesidenan Kedu, bentukan Pemerintah Kolonial dulu. Dalam perkembangannya Kadipaten Menoreh kemudian dipindahkan ke Temanggung.

Dalam pantauan PortalKBR akhir Januari lalu, Pasar Legi Parakan sudah dibongkar, yang rencananya akan dijadikan pasar yang lebih representatif. Pasar Legi Parakan sendiri selama ini dikenal sebagai sentra perdagangan tembakau, khususnya jenis tembakau untuk rokok kretek, yang memang merupakan andalan petani Temanggung.

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17