Bagikan:

Mahasiswi Jogja Populerkan Kembali "Superhero" Indonesia

Sedikit dari anak-anak Indonesia yang mengenal super hero asli Indonesia. Dahulu ada Gundala Putera Petir, Godam Manusia Besi, Saras 008, dan Panji Manusia Millenium.

NUSANTARA

Kamis, 07 Feb 2013 08:44 WIB

Mahasiswi Jogja Populerkan Kembali

superhero indonesia, nidia noviana

KBR68H, Yogyakarta-  Sedikit dari anak-anak Indonesia yang mengenal super hero asli Indonesia. Dahulu ada Gundala Putera Petir, Godam Manusia Besi, Saras 008, dan Panji Manusia Millenium. Mereka adalah tokoh superhero yang pernah populer di dunia perfilman Indonesia dan sangat melekat di memori anak-anak Indonesia pada zamannya.

Namun kini justru hampir tidak ada lagi film anak-anak yang menghadirkan sosok kepahlawanan dan superhero Indonesia. Layar kaca Indonesia kini hanya dihiasi dengan film-film yang mengangkat superhero dari luar negeri seperti Batman, Superman, Spiderman, Hulk, Ultraman, dan Power Rangers yang sangat disukai anak-anak di berbagai belahan dunia.


Kondisi ini menimbulkan keprihatinan bagi Nidia Noviana, mahasiswi program studi Elektronika dan Instrumentasi (ELINS) FMIPA UGM yang tergerak untuk menampilkan kembali sosok-sosok superhero Indonesia. Bersama dengan komunitas produksi kreatif Jogja Tokusatsu Indonesia (JTOKU), Nidia memunculkan kembali karakter superhero Indonesia lewat film, kostum, dan desain grafis.

“Sangat prihatin selama ini anak-anak Indonesia justru banyak melihat film dengan karakter superhero dari luar negeri seperti Spiderman dan Batman. Padahal Indonesia memiliki banyak figure superhero misalnya tokoh-tokoh wayang seperti Gatotkaca, tetapi tidak banyak yang menggarap secara serius untuk dimunculkan kembali dalam bentuk film yang bersifat edukatif. Untuk itu kami berusaha membangkitkan lagi dunia superhero dengan kearifan lokal Indonesia,” jelas mahasiswi angkatan 2008 ini.

Tahun 2007 Nidia mulai merealisasikan mimpinya dengan membuat sejumlah film pendek yang rata-rata berdurasi kurang dari 10 menit. Film pertama mengangkat tokoh bernama Satria Baja Amar (ayam bakar). Film ini bercerita tentang sang ksatria yang mencoba untuk mengembalikan kembali kepercayaan dan gairah masyarakat untuk beternak dan mengkonsumsi ayam usai mewabahnya virus flu burung di hampir seluruh wilayah Indonesia.

“Film berdurasi diproduksi bekerjasama dengan Dinas Peternakan Yogyakarta untuk mengembalikan gairah makan ayam masyarakat Jogja setelah merebaknya virus flu burung,” ujarnya.

Berikutnya film menampilkan sosok bernama Lightening Electrical Cybox yang mengadopsi salah satu cerita rakyat dari Sumatera Barat yakni Malin Kundang. Hanya saja jika Malin Kundang dikutuk menjadi baru, dalam film ini tokoh utama dikutuk menjadi robot. Pesan moral yang disematkan dalam film ini adalah untuk menjaga kebersihan dan berbakti kepada orang tua. Sosok hantu pocong yang menakutkan juga diangkat Nidia dalam sebuah film berjudul Pocongman.

 Adapula Borneomen yang berupaya melawan ilegal logging , Satria Arahat yang bercerita tentang masyarakat Jawa, Panglima Petir yang dibuat sebagai lanjutan dari film Gundala Putera Petir, Garudaman yang berusaha memberantas tindak korupsi, serta Cempaka si gadis yang bisa berubah menjadi robot. “Kita juga buat film tentang Gatotkaca yang sudah dikontrak oleh B-Channel. Saat ini sudah diproduksi sampai 13 episode,” ungkapnya.

Tak lama lagi ia akan segera merilis film terbarunya yang berjudul Komodo Dragon yang mengisahkan tentang keprihatinan lepasnya Pulau Komodo sebagai salah satu dari 7 keajaiban dunia. “Film akan dirilis beserta dengan komiknya juga,” imbuh Nidia. Disebutkan Nidia seluruh film yang diproduksi diunggah melalui internet di situs youtube sehingga seluruh masyarakat bisa dengan mudah mengakses film-film mereka.

“Respon masyarakat bagus, film kami dilihat 1.000-2.000 viewer dari berbagai negara setiap harinya. Masyarakat luar negeri ternyata sangat mengapresiasi hasil karya kami,” tuturnya. Film yang diproduksi Nidia tidak hanya bisa mengembalikan tokoh superhero Indonesia. Karya-karyanya juga mampu menghantarkan dirinya meraih penghargaan sebagai usaha terinovatif kategori kreatif ajang Wirausaha Muda Mandiri (WMM) 2012. Penghargaan diberikan pada 17 Januari 2013 Silam di Jakarta.

Business Owner JTOKU ini mengatakan selain menggarap film, ia juga bergerak mengerjakan kostum dan desain grafis superhero. Kostum-kostum yang dihasilkan ternyata tidak hanya diminati masyarakat Indonesia, tidak sedikit pesanan yang berdatangan dari luar negeri. “Selama dua tahun terakhir kami sudah ekspor ke sejumlah negara di kawasan Amerika, Asia, Australia, dan Eropa,” jelasnya.

Bisnis usaha yang didirikan Nidia bersama dengan 3 rekannya sejak tahun 2005 silam ini kini berkembang pesat. Dahulu, saat awal berdiri hanya bermodalkan Rp.200 ribu untuk membuat kostum karakter Naruto. Namun usahanya kini telah mendatangkan omset dengan angka yang cukup fantastis yaitu 1 Miliar per tahunnya. Dalam menjalankan usahanya, Nidia mempekerjakan 20 karyawan tetap dan lebih dari 100 orang freelancer. “Melalui usaha ini kami ingin melestarikan sosok-sosok dan karakter superhero yang memiliki corak khas budaya Indonesia dengan mengemasnya dalam tontonan yang ringan tetapi bersifat mendidik,” pungkasnya.

Sumber: http://unisifm.com/news/superhero-asli-indonesia-harus-kembali-bangkit-yogya-radio-jogja

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Jalan Buntu Penolakan Pemekaran Wilayah Papua