Harga Rendah, Petani Cilacap Malas Tanam Kedelai

Harga jual kedelai ke tengkulak sangat rendah berkisar Rp6.000 per kilogram

BERITA | NUSANTARA

Selasa, 19 Jan 2021 11:53 WIB

Author

Muhamad Ridlo Susanto

Harga Rendah, Petani Cilacap Malas Tanam Kedelai

Ilustrasi: Pekerja membuat tempe di sentra perajin tempe Sanan, Malang, Jawa Timur. (Foto: Ari Bowo Sucipto/Antara)

KBR, Cilacap– Petani di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah enggan menanam kedelai lantaran harga jualnya yang murah. Selain itu, budidaya kedelai membutuhkan biaya produksi yang lebih besar dibanding tanaman palawija lainnya.

Ketua Kelompok Tani Cinta Tani, Desa Bantarsari, Kecamatan Wanareja, Cilacap, Karsiman mengatakan harga jual kedelai ke tengkulak sangat rendah berkisar Rp6.000 per kilogram. Sementara, biaya perawatan kedelai lebih besar dibanding tanaman lainnya. Pasalnya, kedelai adalah jenis tanaman yang rentan serangan hama, penyakit, dan gulma. Akibatnya, hasil panen buruk dan petani rugi.

“Kalau kebanyakan yang tanam itu jenis kedelai Lambao. Ya, kadang-kadang, setelah panen padi ya tanam kedelai. Ya itu yang saya tanya, itu cuma dapat 30 kilogram. Jadi nggak normal lah. Nggak produktif. Paling ini rencananya mau tanam jagung. Soalnya jagung sedang bagus sih, harganya Rp4.000 kan lumayan,” kata Karsiman.

Karsiman menjelaskan, selain penyakit busuk akar, kedelai juga rawan hama kupu kecil putih atau biasa disebut Tengangu. Tengangu meninggalkan telur di bawah tunas dan daun muda sehingga batang menghitam dan kerdil. Bisa dipastikan serangan hama ini ini menurunkan produktivitas kedelai. Bahkan, serangan berat menyebabkan gagal panen.

Karsiman menjelaskan, petani di Cikuya sudah beberapa kali menanam kedelai. Dibanding dengan jagung, kata Karsiman, perawatan tanaman kedelai juga lebih berat. Pasalnya, gulma kedelai harus disiangi dan didangir setidaknya dua kali. Akibatnya, biaya yang dikeluarkan tidak seimbang dengan hasil jual.

Editor: Friska Kalia

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Vaksinasi "Drive Thru" Pertama Indonesia

Pahlawan Gambut

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 10