Ajarkan Yel-yel SARA di SD, Pembina Pramuka di Yogyakarta Gagal Lulus Kursus Mahir

"Materi baku dari Kwarnas untuk KML adalah penanaman nasionalisme. Kalau ada isu SARA yang dimunculkan bukan dari materi, itu artinya dia tidak memahami materi itu,"

BERITA | NUSANTARA

Rabu, 15 Jan 2020 10:05 WIB

Author

Ken Fitriani

Ajarkan Yel-yel SARA di SD, Pembina Pramuka di Yogyakarta Gagal Lulus Kursus Mahir

Raker Komisi D DPRD Kota Yogya Dispora Kwarcab terkait yel yel Pramuka "Islam yes, kafir no" di SD Timuran, Selasa (14/01). (KBR/Ken)

KBR, Yogyakarta-  Salah satu pembina Pramuka (E) yang mengajarkan yel-yel berbau SARA di Yogyakarta dinyatakan tidak lulus dalam praktek Kursus Mahir Lanjut (KML) di SDN Timuran Yogyakarta, Jumat (10/01/2020). Kepala Dispora Kota Yogyakarta sekaligus Wakil Ketua Kwarda DIY, Edi Heri Suasana mengatakan E merupakan peserta KML yang berasal dari Gunung Kidul.

Kata dia, E dinilai tidak memenuhi syarat kelulusan dengan materi pelatihan kepramukaan.

"Saya sudah sarankan untuk dinyatakan tidak lulus. Karena materi baku dari Kwarnas untuk KML adalah penanaman nasionalisme. Kalau ada isu SARA yang dimunculkan bukan dari materi, itu artinya dia tidak memahami materi itu," kata Kepala Dispora Kota Yogyakarta sekaligus Wakil Ketua Kwarda DIY, Edi Heri Suasana, usai bertemu dengan komisi D DPRD Kota Yogyakarta, Selasa (14/1/2020).

Edi mengungkapkan, jika ada peserta yang menyatakan satu saja materi yang keluar dari konsep nasionalisme, maka peserta tersebut memang layak untuk tidak diluluskan.

"Kasus itu menunjukkan bahwa ia tidak menguasai materi, itu yang kita ambil, " jelasnya.

Terkait dengan pemecatan, Edi menegaskan bahwa dirinya tidak berada dalam wilayah itu. Sebab, tugas yang bersangkutan tidak berada di Kota Yogyakarta. Namun ia hanya mengikuti kursus yang diadakan oleh Kwarcab.

"Ya, ini saran dari Dispora kepada Kwarcab untuk mengambil tindakan. Pernyataan ketidaklulusan dituangkan dalam surat dari timsus tembusannya ke Kwarcab, ke Kwarda, dan Kwarnas. Kalau perlu ke cabang seluruh DIY. Sehingga yang bersangkutan tidak akan mendapatkan ijazah mahir," tandas Edi.

Edi   menyatakan keprihatinan dengan peristiwa tersebut. Kata dia, hal tersebut bukan kesalahan cabang, tetapi yang bersangkutan.

"Tapi barang sudah terlanjur. Artinya ke depan kita coba  Kota Yogyakarta ini tetap ayem, adem, kalau ada persoalan seperti itu mari kita selesaikan bersama-sama," tukasnya.

Baca Juga:

Meski Dirusak, Sedekah Laut Tetap Berlanjut 

Komnas HAM: Pemda Harus Sediakan Pemakaman Umum yang Tidak Menyulitkan Minoritas  

Sebelumnya, salah seorang pembina pramuka mengajarkan yel-yel berbau SARA kepada para siswa peserta kegiatan pramuka di SDN Timuran, Kota Yogyakarta pada Jumat (10/1). Yel-yel berbunyi "Islam Yes Kafir No" yang disisipkan dalam tepuk pramuka itu diketahui oleh seorang wali murid berinisial K saat menjemput anaknya.

"Awalnya semua bernyanyi normal saja, lalu tiba-tiba ada salah satu pembina putri masuk dan mengajak anak-anak tepuk Islam. Saya kaget karena di akhir tepuk kok ada yel-yel 'Islam-Islam yes kafir-kafir no," kata K pada Senin (13/1) seperti ditulis Antara.


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Kembali Izinkan Umrah, Saudi Umumkan Ketentuan

Eps7. Jejak Kearifan Lokal Gambut

Kabar Baru Jam 7

Vaksinasi Covid-19, Suara Penolakan dari Garda Terdepan

Kabar Baru Jam 8