Ribuan Warga Ciampea Bogor Jadi Korban Asap Hitam Tambang Kapur

Setiap malam, warga terpapar asap pekat yang ditimbulkan dari pembakaran ban untuk membakar karang kapur.

BERITA | NUSANTARA

Jumat, 08 Jan 2016 21:03 WIB

Author

Rafik Maeilana

Ribuan Warga Ciampea Bogor Jadi Korban Asap Hitam Tambang Kapur

LOkasi penambangan kapur liar di Gunung Cibodas, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. (Foto: Rafik Maeilana/KBR)

KBR, Bogor - Ribuan warga Ciampea, Kabupaten Bogor, Jawa Barat menjadi korban asap yang dihasilkan dari aktifitas tambang kapur liar di Gunung Cibodas, Ciampea, Kabupaten Bogor.

Setiap malam, warga terpapar asap pekat yang ditimbulkan dari pembakaran ban untuk membakar karang kapur.

Sedikitnya tiga Rukun Warga (RW) di Desa Benteng, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor harus merasakan sesaknya asap.

Meski lokasi tambang liar ada di Desa Ciampea, namun asap pembakaran sampai ke Desa Benteng yang memang berdekatan.

Kepala Desa Benteng, Faka Harika mengatakan, lima tahun ke belakang aktifitas penambangan kapur liar kian masif di lokasi Gunung Cibodas.

Awalnya, para penambang menggunakan kayu sebagai bahan bakar untuk membakar kapur. Namun ketika para penambang beralih ke ban bekas sebagai bahan bakar, asap hitam setiap harinya selalu menyesaki warga setiap malam.

"Setahun lalu lahan itu pernah disegel Pak Camat, tapi ya jalan lagi. Jadi saya bingung, saya selalu ditekan warga, dan saya posisi ditengah-tengah. Kalau itu lokasi tambangnya ada di desa saya sih, saya bisa bertindak. Tapi itu kan ada di Desa Ciampea, nah asapnya ke desa saya," katanya saat ditemui di kantornya, Jumat (08/01)

Kepala Desa Benteng, Faka Harika menjelaskan, sedikitnya enam ribuan warganya di tiga RW menjadi korban folusi asap yang ditimbulkan.

Bahkan, kata dia, sejumlah warga sempat berobat karena terkena Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA)

"Warga dirugikan dengan kesehatan dan kebersihannya," jelasnya.

Pantauan KBR di lapangan, lokasi tambang ilegal itu hampir mirip dengan kampung penambang liar yang ada di Gunung Pongkor.

Hampir tiap petak tanah sudah berdiri cubluk (tempat pengolahan kapur).

Menurut beberapa warga yang tinggal di dekat lokasi pengolahan, aktifitas pengolahan itu berjalan dari jam 9 malam hingga jam 6 pagi.

Menurut Kepala Desa Benteng, Faka Harika, pihak Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pun sempat datang ke Desa Benteng untuk mengetahui seberapa parah dampaknya.

"Ada tiga orang dari kementerian datang, minta data terkait hal ini. Mudah-mudahan ada solusi agar minimal tidak ada lagi polusi ke desa saya," tandas Faka.

Editor: Agus Luqman
 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Meningkatkan Layanan Publik Melalui SPAN-L4POR

Kabar Baru Jam 15

Kabar Baru Jam 14

Kabar Baru Jam 13

Kabar Baru Jam 12