Komentari Film Di Balik 98, Bima Arya: Film ini Kurang Gereget

Film

NUSANTARA

Jumat, 16 Jan 2015 21:50 WIB

Author

Rafik Maeilana

Komentari Film Di Balik 98, Bima Arya: Film ini Kurang Gereget

Komentari Di Balik 98, Bima Arya

KBR, Bogor - Film “Di Balik 98” yang dirilis sejak Kamis (15/1) kemarin memancing banyak minat warga Kota Bogor, Jawa Barat, untuk menyaksikannya. Tak terkecuali Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto. Di sela kesibukkannya, orang nomor satu di Kota Bogor ini menyempatkan diri untuk menonton film besutan Lukman Sardi ini.

Usai menonton film ini, Bima mengaku jika film ini masih kurang gereget karena kurang dikemas secara maksimal. Selain itu, cerita film  kurang memceritakan tentang apa yang terjadi saat tragedi tahun 1998 itu. Namun ia mengakui jika pesan yang ada dalam film ini cukup bagus.

"Tapi pesan yang disampaikan dalam film ini cukup bagus. Seperti tadi, ketika bayi yang baru lahir itu wafat, kita semua setuju, Reformasi itu mati muda. Reformasi belum bisa diterapkan hingga kini," katanya usai nonton bareng film Dibalik Tragedi 1998 bersama wartawan, Jumat (16/1)

Dalam film itu, Bima sedikit mengkritisi peran tokoh politik Amien Rais yang dianggap sebagai dalang tragedi itu. Menurutnya, sosok Amien Rais masih digarap kurang meyakinkan. Selain itu, peran tokoh-tokoh lain seperti Harmoko juga tidak terlihat maksimal.

"Ya memang dalam film ini setiap tokoh yang dimunculkan ditempatkan secara adil. Jadi tidak membuat tokoh aslinya menjadi sakit hati, nah peran pak Amien juga di sini kalau yang nonton anak-anak SMA ya gak akan tau mereka Pak Amien itu siapa," jelasnya.

Bima Arya pun menceritakan pada saat peristiwa itu, ia berada di Melbourne, Australia untuk menyelesaikan studi S2-nya. Saat itu, ia selalu memantau kondisi Indonesia melalui internet. "Saya sempat nangis saat itu karena kondisi Jakarta rusuh luar biasa. Saya selalu berkomunikasi dengan orang tua untuk memastikan mereka tidak apa-apa," terangnya.

Terkait Reformasi sendiri, lanjut Bima, saat ini tantangannya berbeda dengan dahulu. Jika dahulu, pergerakan dengan keiklasan yang ditunjukkan oleh mahasiswa memang berjalan dengan cukup baik. Para mahasiswa saat itu, hingga berhari-hari memperjuangkan kepentingan yang benar-benar untuk rakyat.

"Nah harusnya teman-teman mahasiswa bisa introspeksi. Sekarang ini kan pergerakan mahasiswa lebih ke transaksional. Yang didomplengi kepentingan politik," pungkas politisi Partai Amanat Nasioal itu.

Sementara film yang berdurasi lebih kurang 90 menit ini mendapat tanggapan yang beragam oleh warga. Yudi Maulana salah satunya. Saat tragedi 1998, kala itu ia sudah menginjak SMA. Sehingga ia bisa sedikit mengerti terkait persoalan yang terjadi saat Soeharto mengundurkan diri jadi Presiden. Dan menurutnya, film ini lebih menghilangkan kesalahan Soeharto sebagai pemimpin yang otoriter dan menimbulkan sosok Amien Rais sebagai biang keladi kerusuhan 1998.

"Mungkin kalau yang nonton mengalami masa 1998, bisa sedikit mengerti dengan apa yang terjadi. Tetapi kalau anak zaman sekarang yang nonton, ia pasti akan kesal dengan Amien Rais. Karena dalam film ini, ditunjukan kerusuhan yang terjadi karena ulah dia yang ingin melakukan reformasi," katanya yang ikut juga nonton bareng bersama Bima Arya.

Editor: Anto Sidharta

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Akibat Pandemi, Angka Kehamilan dan Pernikahan di Jepang Turun

Survive Corona ala Gue

Bias Kognitif Dalam Masyarakat Saat Pandemi

Eps4. Berhitung Plastik pada Kopi Senja

Seribu Jalan Penolak Undang-undang Cipta Kerja