Ekowisata Mendulang Emas ala Pengusaha Papua

Kamar Adat Pengusaha Papua (KAPP) Nabire bakal menggiatkan ekowisata untuk program pariwisata. Salah satu ekowisata yang ditawarkan adalah wisata mendulang emas di Distrik Napan.

NUSANTARA

Jumat, 10 Jan 2014 20:41 WIB

Author

Khatarina Lita

Ekowisata Mendulang Emas ala Pengusaha Papua

Ekowisata, emas, Pengusaha Papua

KBR68H, Jayapura - Kamar Adat Pengusaha Papua (KAPP) Nabire bakal menggiatkan ekowisata untuk program pariwisata. Salah satu ekowisata yang ditawarkan adalah wisata mendulang emas di Distrik Napan.

Ketua KAPP Nabire, Kristovel Mara menuturkan nantinya pariwisata pendulangan emas itu akan ditawarkan kepada wisatawan yang akan berkunjung ke beberapa lokasi pendulangan tradisional disana.

“Wisatawan akan diajari cara mendulang dengan tradisional. Mereka bisa melakukan pendulangan seperti masyarakat setempat dan mengambil hasil dulangannya yang didapat,”jelasnya di Jayapura.

Objek pariwisata lain yang ditawarkan oleh para pengusaha asli setempat ini juga melakukan penyelaman di pantai dengan 19 ekor ikan hiu. Ada hal yang juga adalah berkunjung ke lokasi desa kayu Merbau. Di lokasi itu, beberapa kampung atau desa tersebut telah mengembangkan kayu merbau sebagai ikon kampung mereka.

“Wisatawan nantinya akan diperlihatkan diameter kayu-kayu merbau berdiameter 1-2 meter. Beberapa wisatawan dari Cina dan Australia  khususnya telah melihat kayu-kayu berukuran besar-besar itu,” katanya.

Beberapa tempat untuk bisa menjadi lokasi wisata diantaranya terdapat di Distrik Yaur, Distrik Napan, dan Distrik Wanggar serta beberapa lokasi lainnya. KAPP Nabire mengaku dengan melibatkan masyarakat setempat dan juga pengusaha asli di daerah itu dapat meningkatkan perekonomian.

“Harga kayu merbau yang dijual ke pasaran dihargai mulai Rp 3 juta per kubiknya. Sementara penghasilan masyarakat pendulang emas, rata-rata Rp 400-800 ribu perharinya atau sekitar 1-2 gram emas,” ungkapnya.

Program Lain untuk Meningkatkan Ekonomi Warga


Sejumlah program untuk meningkatkan ekonomi kerakyatan masyarakat adat setempat juga tetap digiatkan oleh KAPP setempat, diantaranya koperasi simpan pinjam dan mengaktifkan kembali pasar tradisional yang telah dibangun pada 2012 lalu.

“Koperasi simpan pinjam, hingga saat ini perputaran uang yang ada, baru dari para anggotanya, belum ada bantuan dari pemerintah ataupun lembaga perbankan lainnya. Koperasi ini tidak boleh mati, kami minta perhatian semua pihak. Kami yakin, masyarakat adat setempat memiliki kemampuan untuk bisa berkembang,” ujarnya.

Pengembangan program lain, seperti pengelolaan hasil hutan sudah mulai ada investor yang melirik, yakni dari Shanghai-Cina untuk kontrak kerja selama 3 bulan kedepan. Sementara untuk persiapan tambang rakyat, KAPP Nabire masih terus melakukan persiapan konstruksi basecamp dan pemasangan peralatan.

“Jenis emas yang ada di Nabire adalah alofial atau kelihatan langsung dengan mata, tanpa diolah dengan bahan kimia lainnya,” jelasnya.

Sementara untuk sektor pertanian, KAPP Nabire terus melakukan survey di beberapa lokasi, diantaranya survei untuk bagaimana lahan pertanian terhindar dari ancamana banjir serta kondisi tanah untuk ditanami berbagai produk unggulan.

“Kami berharap paling tidak, Nabire dapat melakukan swasembada beras, disamping kami tetap melakukan pengembangan panganan lokal lainnya. Jamannya Bupati Ap Youw, Nabire pernah menjadi penghasil beras, diantaranya di daerah Lagari, Wanggar dan beberapa daerah lain. Selain beras, tentu ada komoditi lain misalnya Jagung, kedelai dan jeruk manis,” ujarnya.

KAPP Nabire berharap kepada KAPP di beberapa kabupaten/kota di tanah Papua untuk tidak terfokus pada kegiatan konstruksi dan infrastruktur, namun juga dapat mengembangkan sektor lainnya, sesuai dengan kekayaan sumber daya alam di masing-masing wilayahnya.

“Ini juga dimaksudkan agar dapat terus membuka lapangan kerja bagi masyarakat setempat. Beberapa KAPP dari kabupaten lain, misalnya Kabupaten Yalimo, Nduga, Paniai, dan Intan Jaya telah melakukan koordinasi kepada kami, guna mencontoh atau menjadikan KAPP Nabire sebagai pilot project untuk sejumlah program peningkatan ekonomi kerakyatan,” paparnya.

Editor: Anto Sidharta

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Tim Teknis Pengungkapan Kasus Novel Dinilai Belum Ungkap Apapun