Bagikan:

BNPB Ungkap Mekanisme Modifikasi Cuaca di Jakarta

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT) menerapkan dua cara modifikasi cuaca di Jakarta tahun ini. Dua cara itu adalah mekanisme jumping process dan metode kompetisi. Rekayasa cuaca ini untuk mengurangi

NUSANTARA

Selasa, 14 Jan 2014 21:10 WIB

Author

Ade Irmansyah

BNPB Ungkap Mekanisme Modifikasi Cuaca di Jakarta

BNPB, modifikasi Cuaca, Jakarta

KBR68H, Jakarta - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT) menerapkan dua cara modifikasi cuaca di Jakarta tahun ini. Dua cara itu adalah mekanisme jumping process dan metode kompetisi. Rekayasa cuaca ini untuk mengurangi banjir akibat hujan.

Juru Bicara BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengatakan modifikasi cuaca itu akan mempercepat turunnya hujan sebelum awan tersebut memasuki kawasan DKI Jakarta. BPPT juga akan menembakkan asap di udara untuk menghambat proses pembentukan awan hujan.

“Satu mekanisme jumping process, awan –awan yang sebelum masuk wilayah Jakarta dicegat dengan pesawat-pesawat yang bermuatan garam lalu disemai. Jatuh hujan itu di luar wilayah Jakarta seperti di Selat Sunda, Laut Jawa dan lain-lain. Sehingga ketika masuk ke Jakarta awannya sudah berkurang. Yang kedua, adalah dengan metode kompetisi di mana di Jakarta ditempatkan 24 ground base generator yang setiap hari membakar bahan-bahan semai, bentuknya seperti kembang api, dimana asepnya tadi terbawa ke angkasa yang nanti akan mempengaruhi pertumbuhan awan menjadi lebih kecil dan lebih mandul, “ ujarnya kepada wartawan di Lapangan Udara TNI Angkatan Udara, Halim.

Juru Bicara BNPB, Sutopo Purwo Nugroho menambahkan, biaya modifikasi cuaca tersebut mencapai Rp 20 miliar. Kata dia, dengan modifikasi cuaca ini, dampak banjir akibat hujan di Jakarta dapat berkurang hinga 35 persen.

Dampak Modifikasi Cuaca


Soal dampak modifikasi cuaca, BNPB memastikan teknologi ini tidak akan memberikan dampak buruk terhadap ekosistem di Jakarta. Sutopo Purwo Nugroho mengatakan materi yang digunakan dalam rekayasa cuaca di Jakarta tersebut hanya garam murni (Nacl). Dia menambahkan, pihaknya juga sudah menguji dan membuktikan hal tersebut di laboratorium yang hasilnya adalah tanah dan air di Jakarta tidak akan tercemar jika TMC ini diterapkan.

“Pertama dari aspek kualitas airnya tetap sama, karena material yang digunakan sekali terbang pesawat Hercules bisa membawa 8 ton untuk menyemai dan dijatuhkan ke awan, jika dibandingkan dengan air yang turun akibat hujan itu jutaan ton. Dalam hal ini juga dipasang titik-titik sample kualitas air yang diperiksa di laboraturium dan menunjukkan bahwa tidak ada dampak dan tidak ada pencemaran. Kemudian ada kekhawatirkan dengan berkurangnya curah hujan diwilayah Jakarta tentu akan mengganggu keseimbangan air dijakarta, jakarta akan menjadi kekeringan dan sebagainya, maka itu tidak berasalan,” ujar Sutopo.

Sutopo Purwo Nugroho menambahkan, program rekayasa cuaca ini tidak akan menyebabkan Ibukota kekeringan. Menurutnya, kekeringan Jakarta disebabkan kurangnya ruang terbuka hijau yang mampu menampung air hujan. Selama ini air hujan di Jakarta langsung terbuang ke laut. Itu sebab, pasokan air resapan terbatas.

Editor: Anto Sidharta

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Ikhtiar Sorgum untuk Substitusi Gandum

Most Popular / Trending