Banjir, Seribuan Warga Pekalongan Masih Mengungsi

1400-an warga di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah masih berada di pengungsian. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pekalongan, Bambang Sudjatmiko mengatakan, seribuan pengungsi itu tersebar di sejumlah posko pengungsian.

NUSANTARA

Rabu, 29 Jan 2014 20:39 WIB

Author

Nur Azizah

Banjir, Seribuan Warga Pekalongan Masih Mengungsi

Banjir, Pekalongan, Mengungsi

KBR68H, Jakarta – 1400-an warga di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah masih berada di pengungsian.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pekalongan, Bambang Sudjatmiko mengatakan, seribuan pengungsi itu tersebar di sejumlah posko pengungsian. Pengungsi berasal dari sejumlah kecamatan di Kabupaten Pekalongan, di antaranya Tirto, Wiradesa, dan Sragi. Saat ini banjir di sana masih setinggi 20 sampai 50 sentimeter.

"Sampai hari ini banjir itu di Kecamatan Tirto, Kecamatan Wonokerto, Wiradesa, Siwalan, Sragi, Buaran. Poskonya induk satu, kemudian pos bencana yang lain pos pengungsian ini ada beberapa tempat yang kita sediakan antara lain di IBC ini masih kosong, yang di Dakota ini ada, kemudian di rumah dekat pabrik Dupantex. Kemudian di rumah dekat pabrik Lokatex juga ada. Kemudian di balai desa maupun di masjid dan sekolahan. Kurang lebihnya 1400-an itu," terang Bambang kepada KBR68H, Rabu (29/01).

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pekalongan Bambang Sudjatmiko mengaku sudah mendirikan dapur umum dan mengirimkan bantuan makanan bungkus 3 kali/hari. Ia mengimbau warga segera mengungsi ke posko terdekat jika air mulai menggenangi rumah.

Minggu lalu, banjir di sejumlah kecamatan di Kabupaten Pekalongan sempat surut. Lebih dari 7000-an warga pun sudah kembali ke rumah masing masing untuk membersihkan sisa banjir. Namun belum beres mereka membersihkan, banjir kembali merendam rumah.

Editor: Anto Sidharta

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Belgia Kewalahan Hadapi Gelombang Pandemi

Penerimaan Masyarakat terhadap Vaksin Covid-19 Masih Rendah

Ronde 6 - Petani Tembakau

Kabar Baru Jam 8