KUR Bantu Percepatan Program Wirausaha Baru di NTB

Pemberian Bantuan Kredit Usaha Rakyat (KUR) di 14 bank penyalur di NTB membawa dampak cukup baik bagi kesejahteraan masyarakat. Salah seorang wirausahawan baru yang sukses menjalankan usahanya adalah Taufikurrahman asal Kelurahan Babakan Kota Mataram. Di

NUSANTARA

Jumat, 04 Jan 2013 15:01 WIB

KUR, NTB

KBR68H, Mataram - Pemberian Bantuan Kredit Usaha Rakyat (KUR) di 14 bank penyalur di NTB  membawa dampak cukup baik bagi kesejahteraan masyarakat. Salah seorang wirausahawan baru yang sukses menjalankan usahanya adalah Taufikurrahman asal Kelurahan Babakan Kota Mataram. Dia menjalankan usahanya dari hasil pinjaman KUR di Bank NTB sebesar Rp 50 juta. Dari usaha menjual roti itu, dia telah mampu memberikan lapangan pekerjaan bagi 12 orang masyarakat setempat.

Taufikurrahman mengungkapkan, modal dari dana KUR itu sudah diangsur selama 1,5 tahun. Dana tersebut dibagi menjadi dua peruntukkan, yakni sebagai modal dan cadangan. Anggaran permodalan digunakan untuk pembelian peralatan pembuatan roti dan bahan baku roti. Sementara, anggaran cadangan digunakan apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti terjadi penurunan omzet. “Kalau saya belanjakan semuanya, bisa jadi repot,” tegasnya.
 
Pengelolaan usaha itu lanjutnya, didapat dari pendidikan dan pelatihan (Diklat) yang digelar Dinas Koperasi dan UMKM NTB. Bahkan, dirinya berkesempatan mendapatkan Diklat pengembangan usaha ke Sulawesi Selatan (Sulsel) atas fasilitasi Dinas Koperasi dan UMKM NTB. “ Tidak cukup dengan itu, saya juga sering diikutkan mengikuti diklat kewirausahaan,” akunya.
 
Usaha pembuatan roti yang dijalani Taufikurrahman, terus berkembang dari hari ke hari. Itu dapat terlihat dari makin banyaknya pelanggan yang datang untuk membeli rotinya. Terkadang, permintaan pelanggan dengan jumlah yang lebih besar, tidak bisa dipenuhi. Kondisi itu membuatnya tertantang untuk membesarkan usahanya, sehingga dapat lebih banyak lagi masyarakat yang mendapatkan pekerjaan.
 
“Ada pengepul yang membeli roti saya. Mereka langsung datang ke sini membawa keranjang berisi ratusan bungkus. Mereka membeli roti dengan harga Rp 800 per bungkus. Selanjutnya dijual ke pedagang di pasar Rp 850 per bungkus. Di pasar dibeli para pedagang rumahan Rp 900 per bungkus. Nah, pedagang rumahan itu menjualnya seribu rupiah ke masyarakat. Dari 15-20 keranjang yang mau dibeli, kami hanya mampu melayani 10 keranjang,” tuturnya. 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Membuat Minyak Goreng di Satu Harga